
Disela-sela waktu menunggu jam mengajar saya duduk di ruang guru dengan beberapa rekan asatidz, sebuah lagu kemudian terdengar dari salah satu handphone rekan saya, lirik nya cukup menarik dan memang akhir-akhir ini menjadi fyp di beberapa platform media, kalau tidak salah judulnya “Kota ini Tak sama tanpamu”. Saya memang bukan seseorang yang ahli dalam musik atau bisa menilai musikalitas seseorang, cara pandang saya terhadap sebuah musik atau lagu juga berbeda dengan rata-rata orang.
Sebagian orang memandang musik atau lagu sebagai penghibur hati dan pikiran, sedangkan bagi saya musik itu cara saya berbicara atau bercerita, kebanyakan orang juga mendengarkan lagu diselaraskan dengan mood atau perasaan yang sedang dirasakan. Misalnya mendengarkan lagu santai dengan genre slow yah ketika santai, mendengarkan musik atau lagu dengan tempo yg lebih cepat seperti lagu-lagu bergenre pop, rock atau EDM (Electronic Dance Music) ketika aktivitasnya memang lebih intens, alasannya pun beragam, sebagian sebagai hiburan atau penyemangat, sebagian sebagai pengatur tempo, bahkan ada yg hanya biar tidak merasa sepi saja saat bekerja. Saya sendiri juga memiliki alasan tersendiri mengapa saya mendengarkan musik atau lagu, entah di waktu santai atau di fase pekerjaan dengan intensitas tinggi, yang mungkin lebih mencolok dibandingkan yang lain, ialah saya mendengarkan sebuah musik karna makna lirik yang tersirat di dalamnya, entah seperti apa genrenya, jika liriknya menarik akan saya dengarkan dengan semua kondisi perasaan atau mood saya.
Sering kali rekan saya mengatakan saya aneh, “lagi kerja kok dengerin lagu slow, galau pasti ini”. Padahal yang saya nikmati adalah makna liriknya, mencoba menganalisa apa yang sedang ingin disampaikan sang penulis selalu menarik bagi saya, interpretasi dari setiap orang berbeda-beda terhadap sebuah lagu, begitu pula saya, yang lebih suka memaknai lirik lagu sesuai dengan apa yang ada dipikiran saya, dan bagi saya itu tentu sangat adil.
Sama seperti lagu Nadhif Basalamah “Kota Ini Tak Sama Tanpamu”. Mungkin sebagian orang memandang lagu ini sebagai lagu yang dalam istilah gaul nya (lagu galau), dalam sebuah berita di RRI yang ditulis oleh: Ahmad Wevi Alaika Rijaldi mengatakan bahwa “Lagu ‘kota ini tak sama tanpamu’ mengisahkan betapa sebuah kota yang biasanya terasa akrab, dapat berubah menjadi asing ketika orang tersayang tak lagi ada di sana. Terinspirasi dari pengalaman pribadi Nadhif bersama pasangannya, Taska. Lagu ini merekam perasaan bahwa sebuah tempat menjadi istimewa bukan karena lokasinya, melainkan karena kehadiran orang yang kita cintai.” Dan memang lirik lagunya jelas mensirat kan hal tersebut.
Genggam tanganku, sayang
Kota ini tak sama tanpamu
Masih rasa ingin lagi habiskan waktu di sini
Mungkin tiga atau empat hari lagi
Atau mungkin selamanya
Rumah ku hanyalah kita
Kau dan aku sempurna dimana-mana
(Reff lagu kota ini tak sama tanpamu)
Tapi entah bagaimana bagi saya lagu ini bentuk ekspresi perasaan yang begitu dalam terhadap sesuatu, kita bisa bebas memaknai atau menafsirkan perasaan itu kepada apa, siapa, dimana atau bagaimana, dan saya memilihnya menjadi bagaimana perasaan yang begitu dalam ini dengan melihat surga kecil ini (pondok kita).
Terdengar ganjil atau mungkin cringe, hehehhe…, tapi memang seperti itu.
Pondok kita mengajarkan kita untuk cinta dan patuh terhadap nilai-nilai yang sudah ada di dalamnya karna itu adalah kunci dan bekal kita menjalani kehidupan, berbagai pengetahuan dan pendidikan bisa kita pelajari, dari teori, penerapan, pengembangan sampai kepada pengalaman yang begitu menyenangkan.
Sayang rasanya jika tidak saya bagikan pemahaman ini, perlu kita ingat bahwa jangan sampai perjalanan yang melahirkan pengalaman-pengalaman baik ini tidak kita maknai secara benar, saya memaknai lagu “Kota Ini Tak Sama Tanpamu” menjadi pengingat bagi saya pribadi agar apapun bentuk kehidupan kita nanti, saat berkhidmah dimanapun Itu, yang harus selalu kita pegang adalah nilai-nilai, karena dengan itu cinta kita terhadap apapun yg kita kerjakan baik dari segi waktu tempat atau orang-orangnya tidak akan mempengaruhi niat kita. Saya teringat pesan allahummaghfirlah KH. Muhammad Idris Jauhari, “Apapun cita-cita kalian, kalian harus punya jiwa guru”, bagi saya ini nasehat yang sejalan karna beliau menginginkan kita memahami dan memegang prinsip ini sebagai bekal hidup kita. Jiwa guru yang dimaksud beliau, hemat saya dalam cakupan yang umum ialah prinsip dan nilai-nilai yang ada di pondok, yang mengharuskan kita untuk selalu memiliki jiwa guru, yakni mengayomi, mendidik, memberi uswah, menjadi mundzirul qoum yang muttafaqih fiddien.
Dengan tetap menjaga dan merawat jiwa guru dalam diri kita, kecintaan kita terhadap apapun Insya Allah akan selalu baik, karna pada dasarnya jiwa guru adalah elemen utama dalam kehidupan. Bagi penulis sekaligus penyanyi (Nadhif Basalamah) sebuah kota atau tempat akan terasa kosong saat kita tidak bersama orang yang kita cintai, tapi bagi saya cinta itu ada di dalam diri kita, cinta itu prinsip, cinta itu nilai, ia tak terbatas tempat waktu atau orang, kebahagiaan kita mencintai sesuatu terletak dari bagaimana kita menerima dan berkompromi dengan sesuatu itu.
Saya yakin terkadang kita ingin mengulang momen-momen baik dalah hidup kita, dimana kita berada di tempat yang kita suka , kita bersama orang yang kita sayang, kita berharap bisa mengulang kebahagiaan yang mungkin tak bisa kita jelaskan dengan kata-kata, tapi lebih baik lagi adalah jika kita bisa mempersiapkan diri untuk lebih baik dari sebelumnya agar suatu saat Allah meridhoi kita untuk mengulang momen tersebut, level kebahagiaan kita bisa lebih dari sebelumnya.
Saat saya mencintai pondok saya harus siap dengan segala nya, kurang dan lebihnya harus bisa kita kompromikan dan kita perjuangkan ke arah yang lebih baik. Begitu pula dengan segala hal yang akan kita hadapi di luar. lebih dari itu yang ingin saya bagikan ialah kita harus tetap menjaga ghirah dan cinta kita kepada pondok, meski orang-orang yang membersamai kita hari ini berubah, kita harus tetap berpegang teguh kepada cinta dan ghirah kita, sama seperti kita berpegang teguh kepada jiwa guru yang ditanamkan kepada kita. Gairah dalam mengabdi kita harus tetap menyala, saat menyala besar dijaga, saat mulai redup ditambah, jangan sampai redup apalagi mati hanya karena orang yang ada atau tempat kita berada tidak sama seperti sebelumnya.
Catatan ini saya bagikan sebagai wasiat dan refleksi pribadi untuk kita renungkan bersama, semoga kita menjadi pribadi yang tidak terdistraksi dengan apapun yang ada di sekitar kita baik itu tempat, orang, waktu. Kita harus selalu sama, berpikir sebelum bertindak, berpikir sebelum berbicara, berpikir sebelum mengambil keputusan, bahkan berpikir sebelum melakukan apapun itu, dan itu semua disesuaikan dengan SOP sistem yang ada, dan mengutamakan yang memang hak nya.
