
Sebagai seorang pendidik, saya semakin menyadari bahwa mendidik bukanlah pekerjaan yang selalu tampak hasilnya. Ia bukan panggung yang penuh sorak, melainkan perjalanan panjang yang sering sunyi. Banyak orang tertarik pada awal dan akhir pendidikan—saat santri masuk dan saat mereka lulus—namun sangat sedikit yang benar-benar peduli pada proses di antaranya. Padahal, justru di situlah pendidikan yang sesungguhnya berlangsung.
Mendidik di pesantren ibarat menjadi seorang petani. Di awal, saat benih ditanam, suasana begitu ramai. Santri datang dengan berbagai harapan, wali santri menitipkan doa dan kepercayaan, lembaga menyusun visi, program, dan target. Semua tampak ideal. Namun setelah itu, keramaian perlahan menghilang. Yang tersisa adalah proses panjang: merawat, menunggu, dan bersabar. Seperti petani yang tetap menyiram meski tak ada yang melihat, pendidik terus membimbing meski hasilnya belum tampak.
Fase perawatan inilah yang paling berat. Santri datang dengan latar belakang yang beragam: karakter yang berbeda, daya juang yang tak sama, luka-luka batin yang kadang tak terucap. Di zaman sekarang, tantangan itu berlipat ganda. Santri hidup di tengah arus digital, budaya instan, emosi yang rapuh, dan daya tahan mental yang sering kali belum kokoh. Sedikit ditegur, mudah merasa tertekan. Sedikit diuji, ingin menyerah. Di sinilah pendidik diuji bukan hanya ilmunya, tetapi juga kesabarannya.
Di sisi lain, wali santri pun membawa PR tersendiri. Sebagian berharap hasil yang cepat, perubahan yang instan, dan anak yang langsung “jadi” tanpa melihat proses yang harus dilalui. Ketika ekspektasi tak segera terpenuhi, yang disorot sering kali hanyalah output, bukan ikhtiar. Padahal, pendidikan bukan mesin produksi. Ia adalah proses pembentukan manusia, yang memerlukan waktu, konsistensi, dan kebersamaan.
Dalam kesunyian proses ini, saya sering kembali diingatkan oleh firman Allah: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39). Ayat ini menegaskan bahwa hasil tidak datang dengan sendirinya. Ia lahir dari usaha yang terus-menerus, meski tidak selalu terlihat dan tidak selalu diapresiasi.
Rasulullah juga bersabda:“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan sungguh-sungguh.” (HR. Thabrani). Kesungguhan inilah yang menjadi bekal utama seorang pendidik pesantren. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menjalani proses dengan penuh tanggung jawab, meski jalannya sepi.
Tulisan ini sejatinya adalah pengingat bagi diri saya sendiri. Bahwa dalam mendidik, saya pun harus terus berbenah. Memperbaiki niat, menata emosi, memperluas cara pandang, dan belajar memahami zaman santri hari ini tanpa kehilangan nilai. Saya belajar untuk tidak lelah menanam, meski belum tahu kapan panen itu tiba. Saya belajar untuk tetap hadir, meski prosesnya sunyi dan panjang.
Karena pada akhirnya, mendidik bukan tentang seberapa cepat hasil terlihat, tetapi seberapa setia kita menjaga proses. Seperti petani yang percaya bahwa benih yang dirawat dengan baik tak akan mengkhianati musim, seorang pendidik pesantren melangkah dengan keyakinan: bahwa setiap doa, kesabaran, dan ikhtiar yang dilakukan dalam sunyi, kelak akan berbuah—meski mungkin bukan disaksikan oleh kita, melainkan oleh sejarah dan oleh Allah sendiri.
Wallahu a’lam..
*Tulisan ini terinspirasi dari dawuh Pengasuh TMI, saat acara RGL ujian tulis akhir tahun
