
Kita semua pasti familiar dengan alat transportasi vertical yang digunakan untuk mengangkut orang atau barang dalam sebuah gedung bertingkat, yah benar itu adalah lift, kali ini pertanyaan kepada teman-teman semua ialah antum pasti pernah kan naik lift? Antum tau kan dalam lift atau di sekitar tempat tunggu lift pasti ada kaca? ada yang tau kenapa harus ada kaca?
Ada sebuah cerita klasik yang mungkin bisa menjadikan jembatan pemahaman kita tentang judul yang saya tulis di atas yaitu first principle thinking. Dalam sebuah gedung perkantoran yang bertingkat diisi oleh para veteran atau orang tua, suatu hari komplain tentang lambatnya lift di perkantoran tersebut semakin meningkat, manajemen perusahaan tersebut kemudian menghabiskan 1000 USD untuk membayar seseorang analis untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi di kantor tersebut, kemudian analis tersebut memberi dua pilihan. “Oke, ada dua kemungkinan untuk menangani masalah komplain ini. Satu, meng-upgrade lift-nya menjadi sangat cepat, tapi biaya atau ekspansinya tinggi. Kedua, menambah kuantitas atau jumlah lift-nya, agar walaupun lambat tapi tetap lebih banyak”. Setelah dihitung-hitung bersama, kedua opsi solusi itu tidak memungkinkan. Karna Satu, teknologinya belum sampai dan kalaupun dipaksakan akan sangat mahal. Dan kedua kalau jumlah lift-nya ditambah akan makan banyak ruang. Karena bingung, akhirnya manajemen perkantoran tersebut kumpul dengan seluruh staff-nya.
Kemudian manajer dari perusahaan tersebut menyampaikan “saya menerima semua ide-ide gila dari kalian semua, silahkan!”, Tiba-tiba dari pojok ruang rapat terlihat seorang staff mengacung sambil berkata “pak, saya ada ide, biayanya 500 USD, bagaimana?” Kemudian sang manajer pun bertanya “bagaimana ide anda? coba jelaskan?”, anak muda tersebut kemudian berkata “nanti saya jelaskan intinya budgetnya 500 USD, gimana?”. dengan penuh keraguan manajemen perusahan pun menyetujui permintaan staff nya tersebut.
Ternyata selang beberapa hari kemudian staff tersebut membelikan cermin untuk diletakkan di sekitar dan di dalam lift, beberapa minggu kemudian setelah pemasangan kaca tersebut, komplain tentang masalah lift semakin menurun dan menghilang. Kemudian yang menjadi pertanyaan, jumlah atau kuantitas lift-nya tidak ditambah, lift-nya juga tidak di upgrade tambah cepat, dikasih cermin. Apa hubungannya? dianalisislah kemudian, sebenarnya masalahnya apa sih?. Masalahnya apakah lift-nya kurang cepat seperti yang dikomplainkan orang ataukah sebenarnya ada alasan lain. Ternyata rasa malas dan bosan saat menunggu lift yang menjadi penyebab utama munculnya komplain tersebut. Akhirnya ketika dikasih cermin-cermin itu, saat menunggu jadi ada kegiatan seperti, memperbaiki penampilan, berkaca, ngintip atau ngelirik-ngelirik sebelahnya. Jadi saat ada kegiatan durasi lama saat menunggu lift tidak terasa.
Hal ini kemuduan menarik dianalisis. Masalahnya sebenarnya apa sih?. Masalahnya mau menghilangkan komplain. Sumber komplainnya dari mana sih? dari orang yang merasa tidak nyaman. Karena ternyata ini terkait dengan keresahan (psikologi) manusia itu sendiri, hubungan resah sama masalah yang dideskripsikan memang belum tentu seimbang atau belum tentu sinkron, tapi kemudian dengan hanya menambahkan cermin-cermin itu terpecahkanlah masalah komplain tersebut tanpa budget yang sangat tinggi. Karena masalahnya adalah orangnya bukan teknologinya. Kalau orangnya diberi kegiatan saat menunggu mungkin tidak akan bosan, kemudian tidak akan keluarlah komplain, di situasi yang lain yang mungkin sering kita temui ialah kenapa saat di dufan saat kita mengantri kemudian ada badut joget-joget menghibur kita ternyata tujuan nya agar saat mengantri perhatian kita teralihkan dan menunggu menjadi tidak terasa lama.
Dari cerita tentang lift diatas bisa kita ambil kesimpulan bahwa menggeser fokus adalah salah satu langkah yang di lakukan dalam menerapkan first principle thinking ini, banyak hal yang kemudian bisa kita terapkan, kita kembangkan, menjadikan hal ini sebagai landasan cara berpikir kita, kita bisa memulainya dari mencari hal yang paling mendasar dari setiap permasalahan, misal dalam dunia pendidikan banyak hal yang sebenarnya bisa kita perbaiki menggunakan cara berpikir first principle thinking.
Saya tertarik menerapkan cara berpikir ini dalam bagaimana kita melihat kelompok minat yang ada dipondok, 8 dari 10 santri yang saya tanya secara random mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 sampai hari ini tidak bisa bertahan atau bahkan memiliki kelompok minat sampai menjadi pengajar di kelompok itu atau lulus menjadi alumni dengan berbagai alasan, padahal jelas bahwa lembaga kita menjunjung tinggi kelompok minat sebagai laboratorium santri untuk berkembang. Pertanyaan nya apakah kualitas kelompok minatnya kurang baik? atau kuantitasnya yang kurang?. Disinilah kita menggeser fokus kita. Kasus cermin lift mengajarkan kita untuk menggeser fokus dari masalah teknis ke masalah manusia (psikologi, perilaku, atau persepsi).
Asumsi analogis yang sering terjadi ialah ekskul hanya berjalan baik jika ada pembina, jadwal, dan daftar hadir. Jika terjadi kejenuhan, solusinya dianggap hanya mengganti pembina atau mewajibkan kehadiran. Ini adalah analogi yang dangkal, ibarat mencoba membuat lift lebih cepat tanpa memahami bahwa masalahnya adalah kebosanan. Jika ekskul tidak dikelola untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan dampak nyata, maka potensi terbaiknya akan terbuang sia-sia.
Al-ma’hadu yuhibbuna wa nuhibbuhu, ini frasa nasehat dari KH. Hasan Abdullah Sahal yang saya kutip dari bukuTHE GARDEN OF WISDOM. Adalah sebuah nilai penting dalam menanamkan pendidikan dan pemahaman tentang segala hal yang ada di pondok, kemudian bisa kiranya kita runcingkan lagi menjadi al-firqotu yuhibbuna wa nuhibbuhu, ini yang harus kita tanamkan, kita lestarikan dan kita kembangkan ke arah yang benar. Mengatasi masalah ini, kita harus kembali ke kebenaran dasar dengan bertanya “Bagaimana kita bisa membuat ekskul yang sudah ada terasa relevan dan menyenangkan, sehingga minat yang baru tumbuh dan yang sudah ada semakin meningkat?”. Bagi saya ada asumsi yang dihilangkan atau kebenaran dasar yang hilang arah.
Ekskul tidak hanya bertujuan mengisi waktu luang. Tujuan ekskul adalah menjadi laboratorium praktis untuk melatih soft skill, kepemimpinan dan kolaborasi yang bisa diaplikasikan di masyarakat nantinya. Pengembangan harus bersifat inisiatif santri (student-led), pembina hanya menjadi fasilitator dan mentor. Keberhasilan tidak diukur dari kemenangan lomba. Tapi keberhasilan diukur dari Proses pembelajaran, kaderisasi, kreativitas, dan keberlanjutan program.
Dengan memahami bahwa masalahnya adalah kualitas pengalaman dan kepemilikan, kita harus menciptakan “cermin lift” versi ekskul. Pertama, meningkatkan minat awal melalui rebranding dan relevansi, seperti mengubah kemasan dan narasi ekskul yang ada. Ekskul pidato tidak hanya berkelut di pidato saja melainkan menjadi klub public speaking, da’wah digital, podcast, news anchor/presenter dan lain-lain, atau dalam ekskul olahraga menjadi klub leadership melalui teamwork, dengan mengadakan couching clinic untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang olahraga tertentu sebagai bentuk kaderisasi yang nyata, Ini juga menciptakan relevansi bagi santri baru ataupun lama. Kedua, menjaga minat yang sudah tumbuh melalui otonomi proyek, seperti menerapkan model proyek mandiri (student-led projects) di setiap ekskul. Santri senior harus diberi tanggung jawab penuh merancang, mencari bakat santri, dan melaksanakan proyek dengan impact nyata. Dengan memberi otonomi dan menjaga antusiasme santri akan berdampak pada keberlanjutan kelompok minat dan programnya. Ketiga, mengubah metrik keberhasilan menjadi portofolio skill, selama ini laporan formal selalu menjadi acuan utama, mengubah laporan formal dengan portofolio digital yang mendokumentasikan setiap keterampilan yang diperoleh santri. Ini mengubah ekskul dari formalitas menjadi aset pengembangan diri yang berharga. Dan yang keempat ialah kolaborasi antar ekskul yang bisa memicu santri agar memiliki pola pikir yang lebih kreatif karena mereka dituntut untuk melaksanakan teamwork dengan keterampilan yang berbeda tapi dengan tujuan yang sama.
Kita tidak perlu membuang ekskul lama, atau menambah ekskul baru yang peminatnya saja belum tentu jelas, seperti halnya kita tidak perlu mengganti pembina setiap semester. Kita hanya perlu mengubah mindset, pengalaman dan peran santri di dalamnya, tapi yang perlu menjadi perhatian khusus juga bahwa mindset itu tumbuh melalui ekosistem yang sehat. Perlu untuk saling mengingatkan bahwa inti dari first principles thinking adalah mencari akar dari sebuah masalah. Ketika para santri mengeluh “ekskulnya membosankan!”, solusi analogis yang populer adalah menambah ekskul baru, sedangkan solusi first principles thingking adalah menyadari bahwa yang mereka butuh adalah mereka tahu mengapa mereka berada di ekskul itu. Jadikan santri sebagai subjek aktif yang bertanggung jawab atas kesuksesan program, kader dan minat pun akan tumbuh secara alami.
Wallahu ‘alam bisshowab.
