
Sebagai manusia yang memiliki akal dan perasaan, tidak heran jika kita pernah mengalami kebingungan tentang merasakan kesedihan dan kebahagiaan dalam satu waktu yang sama. Misal, ketika mengingat kenangan wisuda. Pastinya akan merasa bahagia karena puncak dari pendidikan yang kita tempuh akhirnya selesai. Ada rasa syukur, puas, dan kalimat “akhirnya aku diwisuda”. Namun di sisi lain, ketika itu juga kita merasakan kesedihan karena akan berpisah dengan teman yang biasanya bersama, bahkan guru yang sangat peduli dengan kita. Atau ketika kita mendapat juara atau peringkat kedua pada suatu lomba, pastinya kita akan senang, namun bisa juga kecewa bahkan sedih, “mengapa hanya bisa juara kedua?”. Sedih karena waktu yang digunakan selama ini tidak mendapatkan hasil yang maksimal.
Dua contoh kejadian di atas, disebut sebagai bittersweet.
Apa Itu Bittersweet?
Secara bahasa bittersweet berasal dari dua kata; bitter (pahit) dan sweet (manis). Dalam ilmu psikologi, istilah ini menggambarkan emosi ambivalen, yaitu keadaan dimana seseorang merasakan dua emosi berlawanan secara bersamaan (Larsen et al., 2001).
Seorang peneliti Barbara Fredrickson (2001) dalam teori Broaden-and-Build of Positive Emotions menjelaskan bahwa emosi positif (seperti bahagia) bisa membuka ruang kesadaran yang membuat kita lebih fleksibel dan reflektif, bahkan ketika bercampur dengan emosi negatif. Dengan kata lain, bittersweet menunjukkan bahwa otak kita mampu menampung dua kejadian emosional sekaligus.
Kenapa Kita Bisa Merasakan Bittersweet?
Fenomena bittersweet muncul karena kompleksitas sistem emosi manusia. Beberapa teori menjelaskannya sebagai berikut;
- Mixed Emotion Theory
Menurut Larsen, McGraw, & Cacioppo (2001), otak manusia tidak bekerja secara “on-off” antara senang dan sedih. Dua emosi dengan hubungan berbeda bisa aktif bersamaan karena jalur saraf yang memproses emosi tersebut berbeda. Jadi, kita bisa menangis bahagia atau tersenyum di tengah rasa kehilangan, keduanya valid dan alami.
- Affective Complexity Theory
Labouvie-Vief (2003) menyebut bahwa kemampuan untuk merasakan dan menerima emosi campuran adalah indikator kedewasaan psikologis. Orang yang matang secara emosional tidak lagi melihat hidup dalam dikotomi “baik-buruk”, tetapi menyadari bahwa setiap pengalaman punya sisi manis dan pahitnya sendiri.
- Existensial Phsycology
Viktor Frankl (1946) dalam Man’s Search for Meaning menegaskan bahwa penderitaan dan kebahagiaan adalah bagian dari makna eksistensial manusia. Emosi bittersweet membantu kita menemukan arti dalam kehilangan, sehingga rasa sakit tidak hanya dihindari, tapi dipahami sebagai bagian dari pertumbuhan batin.
Fungsi Psikologis Rasa Bittersweet
Walau terasa “campur aduk”, perasaan bittersweet justru punya efek positif bagi kesehatan mental.
- Meningkatkan Empati dan Keterhubungan Sosial
Menurut Williams & DeSteno (2008), pengalaman emosi kompleks seperti bittersweet membuat seseorang lebih mudah memahami perasaan orang lain karena mereka terbiasa menerima ambiguitas dalam diri sendiri.
- Membantu Proses Refleksi dan Syukur
Kesedihan yang menyertai kebahagiaan sering kali menimbulkan kesadaran mendalam tentang nilai waktu dan hubungan. Fredrickson (2013) menyebutnya sebagai emotional resonance, ketika kita belajar menghargai kebahagiaan justru karena tahu rasanya kehilangan.
- Meningkatkan Kesehatan Emosional Jangka Panjang
Studi oleh Coifman et al. (2010) menemukan bahwa individu yang mampu merasakan emosi campuran lebih cepat pulih dari stres dibanding mereka yang hanya mengalami emosi negatif murni. Artinya, bittersweet punya fungsi adaptif: membantu kita move on dengan cara yang lebih sehat.
Bittersweet sebagai Cermin Kemanusiaan
Rasa bittersweet menunjukkan bahwa manusia bukan makhluk satu dimensi. Kita bisa bahagia dan sedih di saat yang sama, dan itu justru membuktikan betapa kaya dan dalamnya emosi manusia.
Seperti yang dikatakan penulis Susan Cain dalam bukunya Bittersweet: How Sorrow and Longing Make Us Whole (2022), “Kesedihan adalah cara hati kita mengingat cinta yang pernah kita miliki.”
Merasakan bittersweet bukan tanda lemah, tapi tanda bahwa kita benar-benar hidup sepenuhnya, dengan segala warna emosinya.
![]()
