Sejujurnya, sudah lama saya ingin kembali bersuara di rubrik Guru Menulis ini. Tapi, seperti biasa, hidup jarang memberi jeda yang panjang. Apalagi bagi kita yang hidup dengan banyak peran: guru, orang tua, kadang juga teman curhat, sekaligus pencatat hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Energi terserap ke sana kemari, sementara hasrat menulis terus mengetuk, menolak diam, tapi harus rela menunggu giliran.

Sebelum melangkah lebih jauh, izinkan saya meluruskan satu kesalahpahaman kecil yang sempat beredar di antara beberapa kawan: bahwa menulis di rubrik ini mendapat honor. Saya tegaskan tidak, tidak sepeser pun. Kami menulis bukan untuk itu. Kami menulis karena ingin bicara, ingin berbagi kegelisahan, dan ingin menyambung rasa di tengah hiruk pikuk kehidupan yang sering tak sempat memberi ruang refleksi.

Beberapa pekan lalu, publik dibuat heboh oleh tayangan di salah satu stasiun televisi nasional. Dalam narasinya, pesantren digambarkan dengan nada negatif seolah menjadi tempat yang sarat feodalisme, “jalan di depan kiai harus jongkok, salaman harus ngesot, kiai sudah kaya tapi tetap menerima amplop,  santri bukannya belajar malah disuruh mengurus rumah tangga layaknya pembantu.”

Bagi kami yang tumbuh dan hidup di dunia pesantren, narasi semacam itu terasa berlebihan, bahkan menyinggung. Tak heran jika banyak alumni dan santri bereaksi keras. Tapi kemudian muncul pertanyaan mendasar: mengapa setiap kali pesantren muncul di media, pemberitaannya selalu terasa berat sebelah? Mengapa selalu memicu debat dikolom komentar dan tudingan miring?

Untuk menjawab pertanyaan diatas memang tidak sederhana. Namun, saya mencoba melihatnya dari dua sisi.

Pertama, dalam sosiologi ada istilah culture shock gegar budaya. ketika sebuah tradisi dikenalkan pada orang yang belum pernah akrab dengannya, reaksi yang muncul bisa berupa kaget, bingung, bahkan menolak. Tradisi pesantren pun demikian, saat dibawa keluar dari lingkungannya, sering disalahpahami.

Contoh sederhana adalah tradisi berpakaian yang berlaku di pesantren kita TMI Al-Amien Prenduan: Setiap santri diwajibkan mengenakan sarung dan atasan kemeja atau koko yang dimasukkan ke dalam sarung, lengkap dengan ikat pinggang. Bagi orang luar, pemandangan semacam itu mungkin tampak aneh, bahkan lucu. Tapi bagi kami, itu simbol kerapian, disiplin, dan penghormatan terhadap aturan.

Kedua, kita juga sedang hidup di era perang media. Persaingan antar media hari ini mirip “Perang Ayam Crispy” di Kecamatan Pragaan dari ujung timur sampai barat, semua berlomba merebut pembeli. Bedanya, yang dijual bukan rasa ayam apalagi gratis Es Teh, melainkan atensi publik. Jika gagal menarik perhatian, mereka kehilangan pamor, bahkan bisa gulung tikar. Karena itu, berita sensasional sering lebih dipilih ketimbang berita yang benar-benar substantif.

Fenomena ini nyaris sama persis dengan perilaku sebagian pengguna FB Pro: soal benar atau tidak, urusan belakangan, asal jam tayang tinggi dan gajian dari bos Meta tetap cair.

Salah satu “jalan ninja” media dalam menarik perhatian adalah dengan mengangkat isu-isu yang sedang viral. Dan kali ini, mereka menemukan dua bahan bakar yang sempurna: pesantren dan rasionalisme.

Sebelum tayangan yang membuat heboh publik muncul, Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo sempat mengalami musibah. Bangunannya ambruk, menelan korban sekitar 170 santri. Peristiwa ini viral dan disambut berbagai komentar sinis. Ada yang menilai pesantren hanya modal “jualan barokah” untuk mencari penghidupan para pengurusnya sementara bangunannya tidak layak, bahkan ada yang berani menyebut SDM pesantren rendah.

Menurut saya, pandangan semacam ini lahir dari kepala yang terlalu rasionalistik, menutup mata pada dimensi spiritual. Saat ini pola pikir semacam ini sedang tren, terutama di kalangan Content Creator yang getol menjadikan “logika” sebagai satu-satunya ukuran kebenaran, lalu diamini oleh orang-orang yang terbiasa menghabiskan waktu hanya untuk scroll video pendek tanpa merenung dan lantas menganggap dirinya sudah berada pada tahapan rasional. Akibatnya, tradisi pesantren yang kaya nilai spiritual justru dicap mistikal dan irasional.

Padahal, yang sering luput mereka pahami adalah perbedaan antara “mistikal” dan “metodologi mistikal.” Yang satu berbicara soal kepercayaan tanpa dasar, yang lain berbicara tentang cara memahami realitas melalui kedalaman batin dan pengalaman rohani. Dua hal yang jauh berbeda.

Inilah yang kemudian menjadi bahan bakar media: mengadu rasionalisme modern dengan tradisi pesantren yang dianggap ketinggalan, feodal. Padahal, yang mereka lihat hanyalah permukaan bukan kedalaman nilai yang hidup di dalamnya.

Sebagai bagian dari ekosistem pesantren, saya yakin pesantren tidak pernah alergi terhadap kritik. Asal kritik itu lahir dari niat yang tulus, bukan dari hasrat untuk merendahkan. Kami sadar betul, tak ada sistem di bumi ini yang benar-benar sempurna. Bahkan Liverpool, tim yang diisi pemain top dengan harga fantastis pun bisa mengalami kelelahan beruntun dalam empat laga terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses