Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita akan menjumpai berbagai macam orang dengan perbedaan dan ciri khas karakter masing-masing. Ada orang yang perilakunya nyaman untuk diperhataikan dan juga ada yang menjengkelkan.

Contoh, ketika kita melihat orang yang datang terlambat ke sekolah, pasti kita akan mengecap orang itu pemalas, nakal, tidak displin, dan berbagai macam penilaian lainnya. Sebaliknya, ketika diri kita yang datang terlambat ke sekolah, pasti kita akan membela diri dan menyalahkan keadaan atau situasi, bisa seperti macet di jalan, hujan, masih mengerjakan hal lain yang lebih penting, dan banyak lagi pembelaan yang lain.

Dari contoh diatas, dapat disimpulkan bahwa manusia tidak bisa lepas dari pekerjaan “menilai orang” entah dirinya sendiri atau orang lain dalam kehidupannya. Penilaian ini cenderung dilakukan dengan cepat, tanpa menyadari adanya bias kognitif yang mempengaruhi cara pandang.

Apa itu Fundamental Attribution Error?

Salah satu bias atau prasangka yang paling sering dibahas dalam ilmu psikologi adalah Fundamental Attribution Error (FAE) atau kesalahan atribusi fundamental. Hal ini menjelaskan tentang kecenderungan seseorang dalam melakukan penilaian kepada orang lain, yang mana  lebih berfokus pada faktor disposisional, seperti sifat atau karakter alami, dan mengesampingkan faktor situasional yang melatarbelakangi tindakan tersebut. Dengan kata lain FAE adalah kesalahan dalam berprasangka.

Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Lee Ross pada tahun 1977. Mulai sejak itu pula, FAE menjadi salah satu kajian penting dalam teori atribusi. Ross juga menegaskan bahwa manusia sering melakukan penilaian yang tidak seimbang; terlalu cepat menghubungkan perilaku manusia dengan sifat dan kepribadiaannya. Padahal dalam banyak kejadian, perilaku manusia juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti situasi atau keadaan yang memang diluar dari kendali dirinya.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terjebak dalam fundamental attribution error ini. Pertama, keterbatasan kognitif membuat manusia cenderung mencari penjelasan sesederhana dan secepat mungkin. Menyalahkan sifat atau kepribadian seseorang lebih mudah daripada menganalisis kompleksitas situasi yang dialami sebenarnya. Kedua, adanya bias persepsi, diamana perhatian lebih terpusat pada perilaku subjek dibandingkan dengan faktor sekitarnya. Selain itu, terdapat perbedaan perspektif antara pengamat dengan subjek. Pengamat menilai orang lain hanya terbatas oleh apa yang dilihat dan cenderung penilaian tersebut relatif sama antara satu orang dengan orang lain. Sementara subjek atau pelaku biasanya menilai dirinya sendiri dengan alasan situasi atau keadaaan yang dialami, dan tentunya keadaan tersebut hanya dirinya saja yang mengetahui.

Lantas Apa Dampak dari FAE?

Dampak dari  fundamental attribution error cukup luas dalam kehidupan sosial. Hal tersebut dapat menimbulkan salah paham interpersonal, memperkuat stereotip negatif atau anggapan yang tidak akurat dan merugikan orang lain, bahkan dapat memicu konflik sosial. Dalam jangkauan yang lebih luas, seperti pendidikan, manajemen, atau hukum, FAE ini bisa berakibat pada pengambilan keputusan yang salah dan tidak adil. Misalnya, seorang hakim yang hanya fokus pada buruknya karakter calon narapidana, dibandingkan dengan memperhatikan situasi yang mendorong atau melatarbelakangi tindakan yang dilakukan tersebut terjadi.

Menyadari adanya bias ini, sudah sewajarnya agar setiap individu manusia berusaha untuk menguranginya. Salah satu caranya adalah dengan melatih empati, yakni mencoba unuk memahami situasi bahkan ikut merasakan apa yang dialami oleh orang lain. Selain itu, mengumpulkan informasi yang cukup sebelum menilai orang lain dapat membantu memberikan penilaian yang lebih adil dan objektif. Terakhir, meningkatkan kesadaran diri tentang adanya bias kognitif akan mendorong individu lebih berhati-hati dalam menarik kesimpulan untuk menilai perilaku orang lain

Dengan demikian, FAE menunjukkan keterbatasan objektifitas manusia dalam melakukan penilaian terhadap perilaku sosial. Kesalahan berprasangka ini tidak hanya mencerminkan cara kerja kognisi, tetapi juga memberikan pelajaran penting bahwasannya penilaian terhadap orang lain harus dilakukan dengan lebih kritis, bijaksana, dan empatik. Bukan dilakukan dengan sesederhana dan secepat mungkin. Dalam masyarakat sosial, kemampuan memahami situasi atau keadaan menjadi kunci dalam membangun interaksi sosial yang sehat, adil dan harmonis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses