
Hal yang sangat buruk dari pendidikan kita hari ini ialah hilangnya esensi dari tujuan pendidikan itu sendiri, mengapa ini bisa terjadi?
Kenyataannya, peradaban melatih cara berpikir manusia untuk menciptakan sesuatu yang disposable, mengarahkan manusia untuk berpikir dengan logika dan ekonomi pasar. Pendidikan yang seharusnya dipandang sebagai proses agung untuk memanusiakan manusia justru tergerus dengan kesalahan niat dan tujuan. Di mana seharusnya manusia dipandang sebagai makhluk holistik dengan potensi spiritual dan intelektual, justru sekarang direduksi menjadi human resources.
Ikhlas: Dasar pendidikan yang terlupakan
Dalam pandangan agama, ikhlas ialah puncak dari segala amal, tidak hanya melakukan sesuatu tanpa pamrih tetapi juga melakukan segala hal dengan tujuan menghamba kepada Allah SWT, termasuk mendidik. Tanpa keikhlasan, pendidikan yang diberikan seorang guru atau lembaga akan kehilangan ruh-nya. Bagi seorang guru, ikhlas bukan mengajar untuk mendapatkan pujian, pengakuan, atau materi, melainkan meningkatkan kualitas anak-anaknya agar cerdas secara intelektual dan spiritual. Ikhlas membuat seorang guru melihat santri atau anak-anak didiknya sebagai aset atau investasi masa depan dengan tujuan menjadi Mundzirul Qaum, dan tujuan pendidikan itu juga jelas sebagai peningkatan kualitas manusia.
Sementara bagi lembaga pendidikan, ikhlas berarti mengelola institusi bukan sebagai entitas bisnis yang berorientasi pada laba, melainkan sebagai wadah peradaban yang berfokus pada pengembangan karakter dan moral. Lembaga yang ikhlas tidak akan memprioritaskan biaya mahal atau fasilitas mewah di atas kualitas pengajaran yang sejati, karena keberhasilannya tidak diukur dari jumlah lulusan yang terserap pasar kerja, melainkan dari seberapa besar kontribusi alumni dan manfaatnya di masyarakat.
Human Resource
Secara ilmiah, pandangan yang mereduksi manusia menjadi human resouces berakar pada teori kapitalisme dan fungsionalisme struktural. Dalam paradigma ini, pendidikan dipandang sebagai sebuah investasi: semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi pula nilai jual individu di pasar tenaga kerja. Paradigma ini secara nyata terwujud dalam fenomena komersialisasi pendidikan.
Fenomena ini telah melahirkan berbagai dampak negatif. Salah satu contohnya adalah biaya pendidikan yang melambung tinggi, menciptakan diskriminasi sosial di mana pendidikan berkualitas hanya dapat diakses oleh segelintir kelompok elite yang mampu secara finansial. Ketika pendidikan dipandang menjadi komoditas dalam satu industri ekonomi, maka jelas sekali bagi saya dan kita semua bahwa ini bertentangan dengan esensi pendidikan itu sendiri. Persoalan ini tidak hanya akan berdampak pada lembaga secara umum tetapi secara khusus juga akan berdampak pada kualitas anak didik (kualitas akhlaknya).
Dalam sebuah podcast (Makna Talks) yang berjudul Pod.300 Anies Baswedan Talks About the Misconception in Education, penjelasan dari H. Anies Rasyid Baswedan, Ph.D., sebagai berikut:
“Kalau kita mendidik berdasarkan availability of job, maka kita akan selalu ketinggalan…, karena itu jangan tempatkan pendidikan sebagai persiapan kerja…, ketika manusia dipandang sebagai sumber daya maka seluruh program kita adalah untuk menyuplai pasar…, tapi jika kita melihat pendidikan semata-mata hanya untuk persiapan tenaga kerja, apa yang akan terjadi? Kita akan menghasilkan sarjana-sarjana yang akan menjual ilmunya kepada mereka yang siap membayar dengan harga termahal tanpa memikirkan misi yang ia bawa.” Tegas beliau.
Namun dalam beberapa kasus, pendidikan dianggap menjadi sebuah komoditas ekonomi oleh oknum-oknum tertentu karena kurangnya kesejahteraan yang diberikan dari sebuah lembaga, sehingga memicu kesalahan berpikir dan perbedaan tujuan tersebut. Itulah mengapa hal ini menjadi perhatian khusus bagi sebuah lembaga.
Hal ini menjadi sebuah pengingat yang nyata bagi kita semua, bahwa dampak itu juga bisa kita rasakan, entah itu dalam internal lembaga maupun pada output kita yaitu santri—dari mulai akhlaknya, prinsip, nilai-nilai, dan juga tujuannya.
Sebuah pesan dari KH. Muhammad Idris Djauhari:
“Kami tidak ingin menambah barisan-barisan intelektual tukang merusak bangsa. Kami tidak ingin menambah para pintar, para orang yang ahli, para pejabat, para elite yang kerjanya hanya menyengsarakan rakyat. Naudzubillah min dzalik. Tolong anak-anakku, janganlah kalian jadi seperti mereka. Jadilah kalian anak-anak yang cerdas tapi ikhlas. Cerdas tapi ikhlas. Jadilah kalian orang yang berpikir memecahkan keadaan dunia ini, tapi hati kalian tetap tawadhu, khusyuk, istiqamah. Kami tidak ingin sekali lagi saya tegaskan menambah barisan-barisan intelektual yang merusak. Barisan cendekiawan yang menyengsarakan rakyat. Barisan ulama yang mengkhianati agama. Naudzubillah, Naudzubillah.”
Insan kamil
Sebagai antitesis dari pandangan human resources, konsep insan kamil dalam Islam menawarkan visi yang jauh lebih luhur. Insan kamil adalah manusia yang telah mencapai kesempurnaan dalam berbagai aspek, baik spiritual, intelektual, maupun moral. Misi pendidikan dalam pandangan ini adalah membantu setiap individu untuk mencapai derajat ini, setidaknya harus berfokus pada tiga hal:
- Pengembangan Spiritual dan Moral: Pendidikan harus menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, kejujuran, dan integritas. Kurikulum tidak hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga mengapa hal itu benar, dengan landasan agama sebagai sumber nilai. Kurikulum lembaga pendidikan tidak boleh mengadopsi kurikulum yang berorientasi pasar (market-oriented curriculum). Mata pelajaran yang dianggap “kurang laku” atau tidak relevan dengan kebutuhan industri, seperti akidah akhlak, syariah, dan filsafat, sering kali dikurangi porsinya, padahal justru harus sebaliknya.
- Pemberdayaan Intelektual: Pendidikan harus merangsang daya nalar dan kreativitas, melatih individu untuk berpikir kritis dan mencari kebenaran. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai jalan untuk mengenal kebesaran Tuhan, bukan sekadar alat untuk meraih keuntungan duniawi. Guru sebagai pembimbing moral harus berperan sebagai teladan, pendidik, dan pembimbing, bukan hanya sebagai penyampai materi pelajaran.
- Kesadaran Sosial: Lembaga pendidikan harus kembali berfungsi sebagai pusat peradaban yang menciptakan pemimpin, inovator, dan manusia yang berintegritas, bukan sekadar pekerja yang kompeten. Lulusan tidak hanya dituntut untuk sukses secara individu, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan komitmen untuk melayani masyarakat. Mereka dididik untuk menjadi mundzirul qaum yang membawa kemaslahatan umat.
Kembali ke Niat yang Ikhlas
Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi dunia pendidikan saat ini adalah mengembalikan orientasi dari human resources menuju insan kamil. Ini membutuhkan sebuah revolusi niat, yang dimulai dari landasan ikhlas. Ketika seorang guru mengajar dengan ikhlas, ia akan menumbuhkan benih-benih kebaikan di hati muridnya. Ketika sebuah lembaga pendidikan dikelola dengan ikhlas, ia akan menjadi mercusuar peradaban yang menerangi jalan bagi generasi masa depan.
Dalam lembaga kita sendiri, kita sudah diberikan pedoman: Panca Jiwa dan Panca Jangka—kunci dalam pengelolaan lembaga. Panca Jiwa menjadi landasan ide dan Panca Jangka sebagai landasan operasionalnya. Karena dalam poin kelima Panca Jangka ialah Kesejahteraan Keluarga Pondok. Kita tidak boleh berdalih bahwa “Dalam Panca Jiwa kan ada poin Jiwa Keikhlasan!” Menilai keikhlasan bagi saya bukanlah ranah makhluk, tak ada orang yang bisa menilai sebuah keikhlasan seseorang. Tugas kita justru ada pada bagaimana menghargai dan memberi harga yang pantas atas keikhlasan seseorang. Saat kita menghargai keikhlasan seseorang, itu lebih dari cukup, dan hal itu juga akan menuntun orang tersebut kepada hakikat nuraninya untuk tidak memandang pendidikan dari sudut pandang yang salah.
Mari kita tinggalkan pandangan yang mereduksi manusia sebagai human resources, dan kembali kepada cita-cita luhur untuk mencetak insan kamil yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat. Lil ‘izzil Islām wal muslimīn. Hanya dengan niat yang murni dan ikhlas, pendidikan akan kembali pada marwahnya yang benar.
Wallāhu a‘lam.

SUPER 🤩