
Pada umumnya hati merupakan sumber segala sesuatu yang dilakukan manusia, yang mana hati akan menjadi sebuah sumber kesadaran manusia, sumber perasaan, maupun sumber spiritual manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Hati adalah kunci untuk mengendalikan seluruh perilaku manusia, namun karena lemahnya sifat yang dimiliki oleh manusia, manusia akan cenderung mengikuti hawa nafsu hingga mudah dihinggapi berbagai penyakit hati.
Penyakit hati begitu banyak macamnya, seperti hasad, ghadhab, riya’, ujub, sum’ah, takabbur dan lainnya. Dan jalan untuk membersihkan berbagai penyakit hati tersebut sangatlah sulit, tidak hanya sulit namun panjang, dan tidak hanya panjang namun melelahkan juga, karena proses dalam menyucikan hati sangatlah susah dan tidak semudah membersihkan kotoran dari pakaian ataupun menyucikan najis dari badan.
Penyakit hati nampak indah bagi yang tidak menyadarinya, ia menikmati penyakit hati tersebut sebagaimana ia menikmati hidangan kesukaannya yang sangat lezat dan telah lama pula ia tidak menyantapnya, begitu-lahap saat menyantapnya seakan-akan tidak ingin berhenti untuk terus menikmati hidangan tersebut.
Ya begitulah penyakit hati, jika seseorang tidak sadar dengan adanya penyakit hati, ia akan merasa penyakit hati tersebut seolah penghias hati yang lumrah dan dapat dimaklumi. Begitu halus penyakit hati merasuki seorang hamba, membiarkan ia terus beramal baik, mendorong untuk terus semangat dalam beribadah, namun tibalah ia pada satu waktu dimana seluruh amalnya akan menghantarkannya pada kehancuran dan kebinasaan.
Contoh nyata, Allah SWT mencontohkan dengan sebaik-baiknya amal setelah dua kalimat syahadah yaitu sholat, sholat yang merupakan inti dari segala ibadah karena penyakit hati menjadi tak bernilai bahkan dapat membawa pelakunya pada kehancuran sebagaimana dalam surah Al-Ma’un ayat 6 “alladziina hum yuraa’un”. Jika sholat dilakukan semata hanya ingin dilihat oleh manusia, tidak ada keikhlasan “yushalluuna wa yaf`aluna dzalika ala ru’yatin naasi la ikhlaasha lahum” demikianlah imam Qusyairi menjelaskan dalam Lathaiful Isyarat.
Tapi ingat, sholat fardhu wajib ditampakkan, maka dari itu sholat fardhu berjamaah hukumnya sunnah muakkadah. Sholat berjamaah adalah syiar agama islam yang wajib ditampakkan, ibadah sunnahlah yang harus disembunyikan namun jika alasannya agar menjadi contoh dan dapat diikuti maka tampakkanlah “innamal ikhfaa`u fin nawaafili illa idza adzharan nawafila liyaqtadiya bihi” demikianlah Imam Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan surah Al-Ma’un ayat 6 dalam kitabnya At-Tafsirul Kabiir.
Maka jelaslah hati sebagai penentu keselamatan seorang hamba dalam beramal, baik bermuamalah dengan Allah SWT ataupun dengan sesama. Tentunya menyucikan hati dari berbagai bentuk penyakit hati memerlukan terapi yang tidak sebentar.
Langkah awal menyucikan hati adalah sadar sepenuhnya bahwa diri telah terjangkit berbagai penyakit hati, seperti berbangga diri dengan seluruh kebaikan yang telah diperbuat dan merasa dirinyalah yang paling unggul dari pada orang lain, keinginan kuat untuk semakin dilihat, dibicarakan dan dinilai dengan berbagai kebaikannya.
Lebih dari itu, ia mulai memandang orang lain lebih rendah karena tidak sebaik dirinya, atau bahkan lebih dari itu lagi, saat ia melihat orang lain mendapatkan nikmat serta kebahagiaan ia merasa iri, hasad, dengki dan menginginkan orang lain hancur.
Saat menyadari bahwa penyakit hati yang telah hinggap harus diobati, itulah awal perjalanan menyucikan hati dimulai, karena penyakit hanya dapat diobati saat yang terjangkit sadar bahwa dirinya sakit. Jalan menyucikan hati pun dimulai, dimana perjalanan ini akan sangat melelahkan, karena semua yang terlihat indah kini satu persatu harus mulai dihindari.
Langkah selanjutnya, sepenuhnya menyadari bahwa penyakit hati yang menghinggapi karena ia telah terjerumus dalam cinta dunia, ia telah menukar kebaikan akhirat dengan kesenangan dunia, keabadian akhirat dengan dunia yang hanya sesaat dan Ridha Allah SWT dengan Ridha manusia. Sadar dan mengetahui sebab penyakit hati sangatlah penting. Karena dengan mengetahui sebab penyakit hati, maka penyakit hati juga akan mudah dikeluarkan.
Setelah mengidentifikasi sebab utama penyakit hati, selanjutnya adalah mengetahui jalan masuk syaitan yang menanam penyakit hati pada hati manusia. Imam Al-Ghazali menyebutkan dalam kitabnya Ihya Ulumuddin bahwa syaitan selalu berusaha memasuki hati manusia untuk merusaknya dengan berbagai jalan, sekuat apapun penjagaan hati manusia syaitan akan tetap datang mengganggu dengan berbagai jalan.
Imam Ghazali pun menyebutkan diantara jalan syaitan memasuki hati; ”Amarah dan syahwat yang tak terkendali, dengki dan menginginkan banyak hal, selalu mengenyangkan perut walau dari yang halal karena perut kenyang adalah pendorong syahwat hingga susah untuk dikendalikan, suka bermegah-megahan dengan pakaian dan tempat tinggal, tamak dengan apa yang dimiliki, terburu-buru dan tidak tenang dalam banyak hal, uang dan yang memiliki nilai seperti uang serta kendaraan, pelit dan takut miskin”.
Sungguh, berbagai hal yang disebut oleh imam Ghazali sebagai jalan syaitan mengisi penyakit hati dalam diri manusia adalah sesuatu yang memang menjadi perilaku manusia dalam keseharian, bahkan tidak sedikit yang mengumpulkan semua hal tersebut sehingga hati benar-benar dipenuhi oleh penyakit hati yang tidak terbilang dan susah disembuhkan.
Setelah mengidentifikasi berbagai cara syaitan agar hati mati, langkah selanjutnya ialah berusaha membersihkan seluruh hal yang menjadi sumber penyakit hati. Tentu hal itu tidak mudah, diperlukan latihan atau yang dikenal dengan Riyadhah untuk membuang seluruh hal yang disebut oleh imam Ghazali sebagai jalan syaitan merusak hati manusia.
Terlebih yang terlanjur senang dan menikmati saat dipuja dipuji oleh manusia baik karena ilmunya, hartanya, kedudukannya atau kebaikannya. Merasa lebih hebat dan mewah di berbagai majelis yang dihadiri karena pakaian dan kendaraan mewahnya. Perutnya juga selalu terisi dengan berbagai makanan lezat menjadikannya beringas seperti hewan buas walau mungkin nampaknya sopan. Kekayaan yang dimilikinya juga telah membuatnya takut miskin hingga ia begitu kikir dan pelit.
Maka tak ada jalan selain Riyadhah, menempa diri dengan membuang seluruh akhlak tercela lalu berperilaku dengan akhlak mulia. Bahkan Abu Hamid Ghazali membahas bagaimana melatih jiwa dengan akhlak mulia dalam pembahasan khusus Kitaabu Riyadhatun Nafsi dalam kitabnya Ihya Ulumiddin.
Riyadhah dengan berusaha berakhlak mulia dan membuang akhlak tercela tidak berarti menghilangkan secara total seluruh potensi dan kekuatan lahiriah manusia seperti Quwwatul Ghadhab dan Quwwatus Syahwah. Karena dari awal diciptakan, manusia telah dibekali berbagai potensi dan kekuatan untuk melaksanakan tugas memakmurkan bumi.
Riyadhah untuk mengisi diri dengan akhlak mulia bagi Imam Abu Hamid Al-Ghazali adalah bagaimana cara hati bisa bersih, karena Riyadhah mampu mengendalikan seluruh potensi dan kekuatan manusia untuk terarah dan dalam petunjuk Allah SWT. Meletakkannya di tengah-tengah, tidak hilang atau terlalu lemah sehingga tidak bersemangat dalam menjalani kehidupan, atau terlalu liar tidak terkendali hingga hatipun terkotori dengan berbagai penyakit hati.
Sebagaimana dalam kitabnya Majmu’atu Rasaili Al-Imam Al-Ghazali fi al-Fiqhi wa al-aqidati wa al-ushuli wa at-tashawwufi, imam Ghazali menyebutkan bahwa jika ingin selamat dan selalu berjalan di atas jalan kebenaran maka dua kekuatan terbesar manusia yakni Quwwatul Ghadhab dan Quwwatus Syahwah harus selalu terkendali dan berada di tengah-tengah “fa idza tawassathat al-quwwatani bi isyarati quwwati al-adli dalla al thariiqi al-hidaayati”
Seluruh potensi dan kekuatan manusia menjadi kekuatan luar biasa yang mendatangkan manfaat jika mampu diletakkan di tengah-tengah atau pada posisi yang terkontrol. Hanya hati bersihlah yang mampu melakukan hal tersebut. Hati bersih yang dihiasi akhlak mulia memiliki kekuatan besar untuk menjadi sumber segala kebaikan, termasuk kekuatan untuk melawan seluruh usaha syaitan menghinggapi hati dengan berbagai penyakit hati.
Hati bersih karena Riyadhah menghiasi diri dengan akhlak mulia akan membimbing kepada Ridha Allah SWT, karena akhlak mulia sendiri adalah cerminan hati yang mulai mengenal Allah SWT. Semakin mengenal Allah SWT maka semakin luhur dan mulia akhlaknya dan semakin dalam pula hati mengenal Allah SWT hati akan bertambah bersih dan suci. Dan jika hati telah benar-benar mengenal Allah SWT segala penyakit hati tidak akan datang menghampiri.
