
Apabila pembaca kebetulan berusia kepala dua dan pernah tamat menonton serial animasi seorang biksu botak dengan tato biru berbentuk panah di kepalanya, tentu tidak asing dengan konsep empat unsur dasar. Avatar: The Last Airbender menceritakan petualangan Aang, si biksu untuk menggenapkan kemampuan mengendalikan elemen air, bumi, udara dan api.
Bahas soal keempat elemen yang dikuasai Avatar, konsep itu terinspirasi dari Rhizōmata. Rhizōmata atau unsur dasar pertama kali digagas oleh Empedokles, seorang filsuf Yunani kuno yang hidup sekitar 492—432 SM, ia menggunakan kata Rhizōmata atau Akar yang bermakna bahwa dunia ini tumbuh dan berubah. Konsep ini menyanggah teori Eleatic Monism yang dikemukakan oleh pendahulunya, Parmenides, yang menyatakan bahwa dunia selalu sama dan tidak pernah berubah.
Konsep Empedokles familiar dengan sebutan ‘Elemen‘, terlebih beberapa animasi yang saya tonton semasa kecil mengusung konsep Elemental. Meskipun demikian, konsep ini kemudian disempurnakan lagi oleh Demokritos dan gurunya, Leukippos. Mereka berpendapat bahwa satuan terkecil yang membentuk realitas adalah atom atau unsur kimia, átomos bermakna “tak terbagi”. Hari ini kita mengenal banyak sekali unsur kimia yang tersusun dalam tabel periodik. Singkatnya, sains modern tidak lagi berpatokan pada Eleatic Monism.
Saya menulis tulisan ini sebab minat pada bidang ilmu pengetahuan alam, termasuk Fisika dan Kimia yang diajarkan di TMI Al-Amien, telah tumbuh sejak saya masih kecil. Ada dua bab pembahasan yang turut mendasari ide tulisan ini: bab struktur atom pada mata pelajaran Kimia kelas IV dan bab termokimia pada mata pelajaran kimia fisik kelas V. Konsep inversi entropi dalam film fiksi ilmiah, Tenet (karya sutradara Christopher Nolan dan fisikawan Kip Thorne) turut memberikan ide terutama pada scene api dingin yang membakar salah satu karakter antagonis di dalam film tersebut.
Saya punya pandangan bahwa sains – dalam kacamata manusia – bergerak menuju muara pengetahuan Tuhan, berkembang dan terus diperbaiki mendekati menuju kesempurnaan. Maknanya adalah umat manusia dalam lintas sejarah selalu berusaha memahami alam semesta. Sains terus berusaha melakukan pendekatan jawaban untuk semua fenomena yang terjadi meski terbatas pada metode ilmiahnya.
Kadang saya berpikiran bila metode tadi berkembang, mungkin mencakup juga fenomena yang terdengar tidak rasional seperti yang termaktub di dalam Al-Qur’an misalnya kisah mukjizat Nabi Ibrahim Alaihissalam yang tidak mempan dibakar api. Meski begitu domain sains tetap diakui keterbatasannya dibandingkan dengan mukjizat, sebagai tolak ukur bahwa muara ilmu Tuhan jauh lebih luas melampaui batasan manusia memandang dengan kacamatanya.
Pemikiran ini lahir dari dua hal krusial. Pertama, saya terkadang menemukan narasi bahwa sains dan agama (baca: teologi) adalah dua hal yang berlawanan, pemahaman sederhananya adalah sains yang berlandaskan observasi empiris dan rasionalitas bertentangan dengan teologi yang bersandar pada dogma dan keyakinan, seolah sains menolak menjawab transendensi, saya pikir belum waktunya saja untuk mendapati konvergensi sebagai jawaban antar keduanya. Kedua, saya justru menemukan fakta bahwa Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar yang dahulu dianggap buatan manusia terbantahkan karena substansinya yang terbukti metode ilmiah bahkan jauh sebelum sains modern menjelaskannya. Universalitas Al-Qur’an menembus batas ruang dan masa.
Misalnya mengenai pertumbuhan bayi, dengan sains kita mengetahui fase-fasenya mulai dari zigot, embrio hingga janin. Jauh sebelum Karl Ernst von Baer dan Heinz Christian Pander meletakkan dasar-dasar embriologi komparatif modern dalam karya dua volumenya yang monumental Über Entwickelungsgeschichte der Thiere (1828–37; “Tentang Perkembangan Hewan”) pada tahun 1817, Al-Qur’an sudah lebih dahulu menjelaskannya di dalam Al-Mu’minun ayat 12 – 14.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍۚ ١٢
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah.
ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍۖ ١٣
Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim).
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ ١٤
Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.
Ada banyak sekali temuan-temuan sains modern yang menguatkan validitas Al-Qur’an, mengukuhkan dengan tegas bahwa ini adalah benar-benar Wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bukan karangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti yang dikatakan oleh orang-orang kafir.
Lalu bagaimana dengan kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang mempan dibakar api? Saya mulai bahas dari sejarah api itu sendiri. Ada banyak referensi mengenai waktu api pertama kali digunakan, angka terjauh berada di sekitar tahun 1.420.000 SM. Api terpanas jatuh pada api biru dengan rentang temperatur 1400 °C hingga 1600 °C, jauh lebih dari cukup untuk sekedar membakar jari.
Nah disinilah letak menariknya. Sir Humphry Davy pada tahun 1810 tanpa sengaja menemukan “Api Dingin” dengan rentang temperatur 120 °C hingga 400 °C. Fenomena yang terdengar mustahil tetapi benar terjadi. Api dingin di sini bukan berarti lantas terasa dingin layaknya es batu, 120 °C tetap saja mudah membakar kulit. Penemuan ini menandakan adanya api yang jauh lebih rendah temperaturnya ketimbang yang umum ditemui. Tidak menutup kemungkinan bahwa perkembangan sains yang masif akan menemukan jenis api dengan temperatur yang benar-benar ‘bersahabat’ di kulit.
قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَۙ ٦٩
Kami (Allah) berfirman, “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!” QS. Al-Anbiya’: 69
Berdasarkan kerangka berpikir tadi bila hendak dikorelasikan dengan ayat di atas, saya berani berpendapat bahwa pemahaman manusia mengenai Termodinamika (cabang ilmu fisika yang mempelajari tentang panas dan yang berkaitan dengannya) terus dalam proses mendekati menuju kesempurnaan mengingat sifat sains yang tentatif. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Sempurna tentu punya kuasa untuk mengintervensi hukum fisika ciptaan-Nya sendiri. Dengan kata lain, kisah tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah ‘ketika di surga nanti’.
“Lantas bagaimana cara sains membahas mukjizat?” Barangkali ini pertanyaan andalan ultrasaintisme yang memang menolak berjalan dengan teologi. Perlu ditekankan bahwa objek yang dibahas sendiri tak memenuhi syarat yang ditetapkan dalam metode ilmiah. Justru yang hendak saya tanyakan, “Mengapa segelintir orang lantas mengatakan mukjizat itu mustahil?” sedangkan sains sebagai keyakinan mereka sendiri tentatif, belum tiba di garis final. Toh yang sukar dipercaya bukan berarti mustahil.
Saya punya pandangan bahwa sains – dalam kacamata manusia – bergerak menuju muara pengetahuan Tuhan, berkembang dan terus diperbaiki mendekati menuju kesempurnaan.
Frasa ‘mendekati’ bermakna bahwa representasi sains terhadap realitas objektif semakin akurat. Frasa ‘mendekati’ jelas berbeda dengan ‘sampai’, Singkatnya, sains bergerak asimtotik. Ini menandakan bahwa sampai kapan pun manusia tidak akan pernah sampai pada kesempurnaan absolut. Layaknya fungsi kacamata yang takkan pernah sesempurna lensa mata, ilmu pengetahuan manusia takkan pernah menyamai ilmu pengetahuan sang kuasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan membuat perumpamaan betapa luasnya ilmu-Nya.
قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا ١٠٩
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” QS. Al-Kahfi: 109
Tulisan ini bukan mengajak pembaca untuk overgeneralisasi terhadap sains sebagai satu-satunya jawaban memahami alam semesta sebagaimana ultrasaintis pahami melainkan mengajak bahwa kita sebagai umat muslim butuh tongkat pedoman atas kebutaan sains yaitu agama. Albert Einstein bahkan mengingatkan untuk tidak membuat dikotomi antara sains dan agama, “ilmu tanpa agama adalah buta”. Dengan demikian, sains ada bersama agama sebagai medium untuk memahami alam semesta dan upaya untuk mendekatkan diri kepada Penciptanya.
