Wakil Pimpinan dan Pengasuh, KH. Dr. Ghozi Mubarok, MA resmi membuka cara Musyawarah Tahunan 1442 H (Musta) pada hari Selasa, 17 November 2020.  

Acara yang menjadi agenda kegiatan tahunan di TMI ini sudah menjadi tradisi yang senantiasa dipertahankan hingga saat ini. Sebagaimana dalam sambutanya, Wakil Pimpinan mengajak setiap santri untuk senantiasa merawat dan mempertahankan tradisi dan sunnah-sunnah pondok dengan baik.

“Kita bersyukur sekali mampu mempertahankan tradisi-tradisi ini, tradisi-tradisi sunnah yang baik. Dan saya yakin pondok kita ini akan terus bertahan kualitasnya jika mampu mempertahankan tradisi pokok yang positif tersebut, Musta kita pertahankan, tradisi pergarus yang positif kita pertahankan, tradisi Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen yang kita langsungkan bagi anak-anak kelas lima kita pertahankan,” jelas beliau.

Tak hanya merawat dan mempertahankan tradisi-tradisi besar yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan yang berlangsung semestinya. Dalam hal ini ia juga berharap kepada seluruh santri untuk bisa menjaga, dan mempertahankan tradisi-tradisi kecil yang berkaitan dengan perilaku dan sikap yang tertanam dalam diri mereka.

“Nah, tradisi-tradisi itu kita jaga, tradisi besar yang menyangkut PKM, Pergantian Pengurus kita jaga, tapi tradisi-tradisi kecil yang menyangkut perilaku sehari-hari sebagai santri harus senantiasa dijaga dengan baik, dengan konsisten dan istiqomah,” tambah Rektor IDIA tersebut.

Acara Musyawarah Tahunan (Musta) juga menjadi ajang inovasi tanpa henti yang ada dalam tradisi TMI. Hal ini dibuktikan sejak awal pertama kali pelaksanaan Musta berlangsung, selalu ada gagasan-gagasan baru yang diangkat dan ditawarkan sebagai langkah mengembangkan kualitas pendidikan di TMI.

Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan Wakil Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

“Saya kira tidak ada Pondok Pesantren dimanapun saat itu (1990-an), yang melaksanakan pergantian pengurus dengan cara mengadakan Musta terlebih dahulu seperti kita melaksanakanya. LPJ dikaji, dikaji oleh semua penghuni pondok, kemudian dipertanggungjawabkan, keuangan dihitung sampai tingkat se-detail-detailnya, inventaris diperiksa, kemudian dibacakan di depan seluruh santri, kemudian dilaksanakan proses pergantian pengurus dan seterusnya, hal itu di tahun 90-an adalah sesuatu yang betul-betul baru, tidak ada di tahun itu saya kira, pondok pesantren manapun yang melaksanakan pergantian pengurus dengan cara yang rinci dan sistematis yang kita punya,” ungkap beliau.

“Nah, aspek kreativitas ini, aspek inovasi ini, juga kita minat dipertahankan dan dipelihara oleh para santri, jadi pengurus yang baru nanti harus inovatif dan kreatif betul, mencari cara-cara yang semakin baik dan sempurna dalam menjalankan program kepengurusan.”

Tak hanya itu, Musta juga menjadi acuan atau salah satu contoh penerapan kegiatan yang berlangsung di TMI selalu mengarah pada kesiapan pelaksanaan kegiatan yang harus berjalan dengan sempurna.

“Musta ini juga memperlihatkan satu aspek yang harus betul-betul kita perhatikan, yaitu bahwa tradisi di pondok kit aini, tradisi di TMI kita ini, melaksanakan kegiatan itu serius betul, serius. Mana ada pergantian pengurus yang dilakukan serius kita ini, mana ada LPJ-LPJ dimanapun yang dikaji serius kit aini, jadi kita betul-betul serius, dan itu bagian dari tradisi kita,” jelas KH. Dr. Ghozi Mubarok, MA. Dengan demikian segala kegiatan yang berlangsung dan dipersiapkan dengan baik akan mengarah dan berdampak pada kelancaran kegiatan. “Dan salah satu konsekuensi nya bahwa, semua acara yang kita persiapkan dengan baik itu sifatnya seharusnya adalah zero mistake, nol kesalahan,” ungkap beliau. (As’ad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.