
“Ustadzah, kami tidak betah.”
Jawaban itu terlontar spontan ketika saya bertanya kepada para santriwati di kelas tentang kehidupan di pondok. Setelah saya telusuri, ternyata ada satu kegiatan yang masih terasa menakutkan bagi mereka; muhadharah. Bagi sebagian santriwati, kegiatan berbicara di depan umum memang bukan perkara mudah. Saya memahami perasaan itu. Sebab, dulu saya pun pernah berada di posisi yang sama.
Jika ada satu kenangan yang selalu membuat saya tersenyum ketika mengingatnya, itu adalah sebuah panggung kecil di tengah ruangan. Bagi sebagian orang, mungkin panggung itu hanyalah bagian dari rutinitas mingguan. Namun bagi saya, panggung itu adalah medan perjuangan melawan rasa takut dalam diri sendiri.
Saya bukan santri yang menonjol di kelas. Nama saya jarang terdengar dalam deretan prestasi akademik. Saya lebih sering memilih diam dan bersembunyi di balik keramaian teman-teman. Karena itu, ketika nama saya diumumkan sebagai petugas pidato bahasa Inggris, rasanya dunia mendadak runtuh.
“Aku harus bagaimana?” ketakutan itu terasa begitu nyata.
Saya masih mengingat malam ketika duduk di pojok asrama dengan secarik kertas berisi teks pidato hasil bantuan teman yang pintar berbahasa Inggris. Kalimat-kalimat di dalamnya terasa asing. Lidah saya kaku, bahkan untuk sekadar mengucapkannya.
Di tengah usaha menghafal itu, saya menangis. Air mata jatuh membasahi kertas yang sudah mulai kusut. Saya marah pada diri sendiri dan terus bertanya, “Mengapa aku tidak bisa seperti mereka?”. Saat itu, muhadharah terasa seperti beban yang terlalu berat untuk saya jalani.
Namun, TMI Al-Amien Prenduan memiliki cara tersendiri dalam membentuk mental santrinya. Saya belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan kemampuan untuk tetap melangkah meski lutut gemetar.
Perubahan itu memang tidak datang dalam semalam. Memasuki tahun kedua, perlahan rasa takut mulai terlihat lebih kecil. Saya mulai memahami ritme panggung dan menikmati proses berbicara di depan orang lain. Rasa takut yang dulu begitu besar perlahan berubah menjadi keberanian.
Latihan yang dulu diiringi tangis ternyata menjadi investasi berharga bagi masa depan saya. Salah satu nikmat yang paling saya syukuri adalah ketika diberi amanah untuk membimbing anak-anak mengaji. Kesempatan sederhana itu terasa begitu berarti karena saya dapat ikut menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada mereka.
Kini, saat berdiri di depan anak-anak dan para pengajar, saya tidak lagi melihat diri saya yang dulu menangis di pojok asrama. Saya mampu berdiri lebih tegak, berbicara lebih tenang, dan menyampaikan pesan dengan percaya diri.
Di sana saya sadar, muhadharah bukan sekadar latihan berbicara. Ia adalah proses pembentukan diri. Saya bersyukur pernah melalui semua itu. Pondok tercinta ini telah menjadi tempat tumbuhnya keberanian dan keyakinan diri.
Untuk para santriwati yang hari ini masih menghafal teks pidato dengan mata sembab, jangan menyerah. Menangislah jika itu bisa meringankan bebanmu, tetapi jangan pernah berhenti, karena setiap usaha dan air mata hari ini akan berbuah manis di masa depan.
Terima kasih Al-Amien, karena telah mengubah rasa takut menjadi senyum dalam pengabdian.
