Kiai dan Santri: Dua Sisi Mata Uang yang Tidak Bisa Dipisahkan

Dalam pembelajaran pesantren, hubungan antara kiai dan santri sangat erat. Kiai sebagai orang yang mengajar sedangkan santri seorang yang diajar (belajar). Dengan jenjang keilmuan yang lebih tinggi serta kepribadian yang mulia, maka kiai menjadi pemimpin karismatik di lingkungan pondok pesantren.

Dengan jiwa pemimpin dan karismatik yang dimiliki, para santri selalu patuh dan taat terhadap perintah sekaligus menghormatinya. Kepribadian kiai terletak pada pemahaman dan luasnya keilmuan, keshalihan dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari yang sekaligus mencerminkan nilai-nilai religius, dan menjadi karakter pesantren seperti ikhlas, tawadhu, dan berorientasi kepada kehidupan ukhrawi untuk mencapai keridhaan Allah SWT.

Salah satu ciri pemimpin yang karismatik adalah kesadaran pengikutnya untuk mentaati setiap perintahnya. Kiai dipandang sebagai pemimpin yang karismatik sehingga ketaatan santri merupakan ciri khas sikap santri terhadap kiainya. Ketaatan santri kepada kiai merupakan salah satu usaha yang dilakukan santri untuk ngalap berkah dari sang kiai.

Definisi lain ngalap berkah merupakan sebuah kebiasaan tradisi yang menekankan dan mengandung unsur sugesti. Tradisi ini berupa keyakinan bahwa apabila dirinya dekat (patuh) kepada seorang kiai, maka akan mendapatkan ketenangan dan kebaikan. Keberkahan akan didapatkan melalui seorang kiai, sedangkan para santri sebagai subjek orang yang mencari keberkahan yang menjadikan ketentraman dalam hidup dan kemanfaatan ilmunya.

Dasar tindakan santri adalah Kitab Adabu al-Ta’liem wa al-Muta’allim, yang di dalamnya memunculkan konsep keberkahan yang disimbolkan dengan tradisi mencium tangan kiai, meminum sisa air bekas kiai, ziarah kubur dan pengabdian sebagaimana tergambar dalam kehidupan pesantren. Tindakan yang menjadi simbol-simbol keberkahan tersebut menjadi sesuatu yang biasa di kalangan pesantren, khusunya untuk seorang santri. Melalui tindakan tersebut, santri meyakini bahwa kemanfaatan ilmu yang dipelajari tergantung pada keberkahan dari seorang kiai.

Namun, untuk kalangan luar pesantren mungkin hal ini masih dianggap tabu dan perlunya kajian pemahaman tentang fenomena-fenomena seperti ini. Pesantren dan kiai bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, yang keduanya saling membutuhkan. Dalam konteks ini, pesantren membutuhkan kiai sebagai simbol identitas kepemimpinan pesantren, sementara kiai memerlukan pesantren sebagai tempat pengultusan identitasnya sebagai pemimpin pondok pesantren, salah satu ciri khas dari tradisi pondok pesantren yang masih dianggap penting oleh para santri, yaitu proses pencarian keberkahan dalam implementasi kegiatan belajar mengajar, serta dengan cara ngalap barokah minuman atau makanan bekas kiai.

Berbicara mengenai ngalap barokah sering dikaitkan dengan hal-hal di luar pemikiran pada umumnya, dalam bahasa Arab, al-Barakah artinya pertumbuhan dan tambahan, yaitu salah satu definisi dari kata dasar ba-ra-ka. Dari kata dasar ini dapat didefinisikan lagi ke dalam berbagai kata dengan bermacam-macam makna. Secara singkat makna dari ngalap barokah artinya mengharap dengan perantara sesuatu, maknanya adalah meminta barokah dengan perantaranya.

Ngalap barokah merupakan sebuah ajaran yang sekaligus menjadi adat dan kebiasaan sejak zaman Nabi Muhammad SAW., mencari barokah dapat dilakukan melalui beberapa media. Pertama, yaitu al-Qur’an. Kedua, yaitu pribadi tertentu seperti para Rasul, Nabi dan orang-orang shalih, maupun malaikat. Ketiga, masjid-masjid seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid al-Aqsha, dan masjid-masjid pada umumnya. Keempat, mencari barokah pada waktu tertentu seperti bulan suci Ramadhan, hari Jum’at, bulan-bulan haram, dan sebagainya. Kelima, mencari berkah pada kota ataupun benda tertentu. Selain itu, masih ada lagi cara mendapatkan barokah, di antaranya adalah dengan perbuatan dan amalan tertentu yang diridhoi oleh Allah SWT.

Berdasarkan beberapa media di atas, mengharap barokah dari para Nabi dan Rasul dan orang-orang shalih (Alim), kiai juga bisa dianggap sebagai orang yang alim, berangkat dari sinilah ngalap barokah minuman bekas kiai, dapat diibaratkan sebagai manifestasi mengharap berkah dari ulama dan para pewaris Nabi. Ngalap barokah minuman bekas kiai memang sudah menjadi kebiasaan dan tradisi turun-temurun sebagai kegiatan budaya yang hidup di lingkungan pesantren, sesuatu yang dianggap barokah biasanya juga identik dengan hal-hal yang suci dan kurang rasioanal, bahkan cendrung mistis.

Mengutip pandangan Emile Durkheim yang mendefinisikan agama sebagai sistem kepercayaaan yang terkait dengan sacred (suci), ritual dan komunitas. Tradisi ngalap barokah minuman bekas kiai merupakan fenomena menarik jika dikaitakan dengan teori-teori sosial agama dan budaya, selain itu tentu tradisi ini tidak berangakat dari ruang hampa, ada faktor dan motif yang mendasarinya, dalam tulisan ini akan mencoba mengugkap motif dan faktor terjadinya tradisi tersebut.

Barokah dalam bahasa Arab mempunyai istilah lain yaitu mubarak dan tabarruk. Mubarak yang berarti yang diberkati dan tabarruk yang berarti meminta berkat. Barokah ini biasanya juga sering disebut dengan istilah berkah, dan kata berkah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah karunia Tuhan yang mendatangkan kenikmatan bagi kehidupan manusia. Menurut istilah barokah artinya ziyadatul khair yakni bertambahnya kebaikan. Barokah juga bisa bermakna tetapnya sesuatu, dan bisa juga bermakna bertambah atau berkembangnya sesuatu. Ada yang mengartikan kata barokah dengan “suatu keagungan” khususnya dikaitkan dengan karunia atau kekuatan spiritual yang dianugerahkan oleh Allah SWT.

Para ulama juga menjelaskan makna barokah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah material, ngalap barokah minuman bekas kiai, dan spiritual, seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak, dan usia. Sedangkan dalam dunia pesantren ngalap barokah merupakan sebuah praktik sosial yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, karena tradisi yang telah ada sejak dulu ini begitu melekat dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat pesantren yang setiap harinya memang melakukan praktik tersebut.

Harapan dari sebuah proses ini sendiri sangat beragam, karena setiap masyarakat juga memaknainya berbeda-beda, sesuai dengan keyakinan akan keberkahan itu masing masing. Tadisi ini juga merupakan sebuah kecenderungan manusiawi yang telah ada sejak dulu. Bahkan berkah dapat dikatakan menjadi sebuah kebutuhan setiap manusia, dan tidak mengherankan jika praktik ngalap barokah menjadi sebuah kebiasaan turun-temurun bagi semua lapisan masyarakat. Istilah dari ngalap barokah berasal dari kata ngalap atau meminta dan berkah. Kata berkah sendiri secara bahasa berasal dari kata barokah, yang artinya berkembang dan bertambah, tetap dan terus melekat, kebahagiaan dan kemuliaan.

Dalam bahasa Arab, susunan kalimat yang diturunkan dari kata berkah adalah lafadz tabarruk, yang berarti mendoakan seseorang atau lainnya agar mendapatkan keberkahan, tabarruk berarti yang disucikan atau yang dimuliakan, barokah yang berarti banyak dalam segala kebaikan dan tabarruk yang berarti mencari berkah, seperti kemampuan untuk melakukan mukjizat atau memprediksi peristiwa-peristiwa di masa mendatang.

Kharisma dapat bersumber dari keturunan atau ciri fisik, kepribadian mulia, serta kelebihan khusus dalam pengetahuan keagamaan maupun pengetahuan umum yang dimiliki seseorang. Dalam hal ini kepemimpinan diberikan kepada seseorang yang memiliki kemampuan atau keunggulan dibanding yang lain.

Menurut Max Weber, kepemimpinan kharismatik didapat oleh seorang yang begitu luar biasa sehingga perintah dan perkataannya dapat mempengaruhi sekelompok orang. Jadi, kharisma yang dimiliki seorang kiai bertujuan untuk memimpin masyarakat, maka pengidentifikasian ini mengacu kepada fungsi ulama atau kiai sebagai penerus dan pengemban risalah kenabian yang disampaikan kepada umat manusia. Atas dasar kedudukan yang ditempati ulama itu, mereka ditempatkan pada kedudukan teratas dalam struktur sosial masyarakat Islam.