
Ada hal-hal dalam kehidupan pesantren yang berjalan begitu lama, hingga ia tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan. Ia menjadi bagian dari suasana, menyatu dengan keseharian, bahkan terkadang luput dari perhatian hati. Padahal, bisa jadi di situlah letak latihan yang paling halus.
Kita semua mengenal suasana menjelang shalat berjamaah. Langkah kaki mulai memenuhi masjid, saf-saf mulai terbentuk, namun belum sepenuhnya rapat. Di beberapa sudut, masih ada percakapan yang tersisa ringan, akrab, seperti melanjutkan dunia luar yang belum sepenuhnya ditinggalkan. Hingga imam memulai bacaan Al-Fatihah.
Di titik itu, sebagian hati mulai diam. Sebagian lain masih membutuhkan jeda. Dan di antara itu semua, suasana berjalan sebagaimana biasanya—tidak ada yang benar-benar terasa salah, tetapi juga belum sepenuhnya terasa khusyuk. Mungkin, karena ia sudah terlalu sering terjadi.
Di sinilah renungan itu pelan-pelan menemukan tempatnya: “Janganlah mengingatkan Allah seakan-akan diri selalu ingat kepada-Nya”. Bukan untuk menahan nasihat, tetapi untuk mengajak diri melihat lebih jujur: apakah kita benar-benar sedang mengingat, atau sekadar berada di tempat yang mengingatkan?
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2) Ayat ini tidak perlu dibaca sebagai teguran yang keras. Ia cukup didengar sebagai bisikan adab: agar antara kata dan keadaan hati tidak saling berjauhan.
Dalam shalat berjamaah, Rasulullah SAW juga mengajarkan dengan penuh perhatian: “Luruskanlah saf kalian, karena lurusnya saf termasuk kesempurnaan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seakan beliau tidak hanya mengajarkan gerakan, tetapi juga rasa kebersamaan. Bahwa berdiri di dalam saf bukan sekadar memenuhi ruang, tetapi menyatukan hati dalam satu arah.
Ketika saf masih renggang, mungkin bukan sekadar barisan yang belum rapat, tetapi juga tanda bahwa rasa kebersamaan itu masih belajar untuk tumbuh.
Ketika lisan masih sempat berbincang saat imam membaca, mungkin bukan semata-mata kebiasaan, tetapi isyarat bahwa hati belum sepenuhnya hadir.
Namun semua ini tidak harus disikapi dengan saling menyalahkan. Karena dalam perjalanan Tazkiyatunnafs, perubahan jarang lahir dari tekanan. Ia lebih sering tumbuh dari kesadaran yang pelan-pelan hadir. Mungkin, setiap kita pernah berada di kedua keadaan itu: pernah mengingatkan, dan pernah diingatkan. pernah merasa hadir, dan pernah merasa jauh. Di situlah letak kejujuran yang perlu dijaga.
Di pesantren, adab seringkali tidak diajarkan hanya dengan kata-kata panjang. Ia hidup dalam suasana. Dalam kebiasaan kecil. Dalam pilihan-pilihan sederhana yang diulang setiap hari.
Datang sedikit lebih awal, lalu mencoba duduk dengan tenang. Merapatkan saf tanpa menunggu aba-aba. Menahan lisan ketika imam mulai membaca, meski sebelumnya masih ingin berbicara. Hal-hal kecil seperti ini, jika dilakukan dengan kesadaran, pelan-pelan membentuk keadaan batin yang berbeda.
Bukan karena ingin terlihat lebih baik, tetapi karena mulai merasa bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah. Dan di titik itu, mungkin kita mulai memahami perbedaan antara mengingat dan merasa sudah ingat.
Yang pertama lahir dari kesadaran bahwa diri masih sering lupa. Yang kedua terkadang datang dari kebiasaan yang tidak lagi diperiksa.
Para ulama mengajarkan, nasihat yang paling jujur adalah yang lahir dari kebutuhan diri sendiri. Maka ketika kita ingin mengingatkan orang lain, mungkin cukup diawali dengan satu bisikan dalam hati: “Ini juga untukku.”
Sehingga tidak ada rasa lebih tinggi. Tidak ada kesan menggurui. Yang ada hanyalah perjalanan bersama menuju ingatan yang sama, menuju Allah yang sama. In syaa Allah, jika adab ini mulai tumbuh, suasana pun akan ikut berubah, meski tanpa banyak suara.
Barisan menjadi lebih rapat, bukan karena perintah, tetapi karena kesadaran. Suasana menjadi lebih tenang, bukan karena teguran, tetapi karena kehadiran.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita tidak hanya sedang berdiri dalam saf yang lurus, tetapi juga sedang belajar meluruskan hati, pelan-pelan, di hadapan-Nya.
