Lidah yang Bertasbih, Otak yang Mendunia: Manifestasi Santri sebagai Pemimpin Global

Selama bertahun-tahun, ada sebuah stereotip usang yang mengurung definisi “santri” hanya pada sebatas sarung, peci, dan bilik-bilik pesantren. Santri kerap dicitrakan sebagai kelompok tradisional yang eksklusif, hanya sibuk mengurus tata cara wudhu dan do’a, serta berjarak dari hiruk-pikuk peradaban modern.

Namun hari ini, narasi itu telah usang. Di era disrupsi teknologi dan globalisasi yang tanpa batas, dunia justru sedang merindukan model kepemimpinan baru. Kepemimpinan yang tidak hanya bermodalkan kecerdasan intelektual, tetapi juga ketangguhan spiritual. Di titik inilah, manifestasi santri modern hadir menawarkan sintesis yang memukau “lidah yang bertasbih, dan otak yang mendunia”.

Dunia saat ini sedang krisis kepemimpinan yang beretika. Kita melihat banyak pemimpin dunia yang cerdas secara akademik dan lihai dalam berpolitik, namun miskin empati dan rentan terhadap korupsi. Kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) hingga rekayasa genetika bergerak lebih cepat daripada regulasi moral yang mengaturnya.

Dalam konteks ini, “lidah yang bertasbih” bukanlah sekadar rutinitas komat-kamit tanpa makna. Ia adalah simbol dari dzikrullah (mengingat Allah), sebuah kesadaran kosmis bahwa ada Zat Yang Maha Mengawasi di atas segala hierarki kekuasaan manusia. Santri dilatih untuk selalu menautkan hatinya kepada Sang Pencipta.

Ketenangan batin inilah yang menjadi fondasi kecerdasan emosional (EQ) seorang pemimpin. Al-Qur’an secara indah mengonfirmasi psikologi ini dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Pemimpin yang hatinya tenteram tidak akan mudah disetir oleh ambisi duniawi yang buta. Keputusannya tidak lahir dari keserakahan, melainkan dari kebijaksanaan. Lidah yang terbiasa bertasbih akan menolak untuk mengucapkan kebohongan publik, menolak memanipulasi data, dan menolak merendahkan martabat manusia lain.

Namun, kesalehan individual saja tidak cukup untuk memimpin dunia. Di sinilah aspek “otak yang mendunia” mengambil peran krusial. Pesantren modern kini tidak lagi mendikotomi (memisahkan) antara ilmu agama dan ilmu umum.

Seorang santri kini fasih membaca kitab kuning (turats), namun di saat yang sama mampu menulis barisan kode programming, menganalisis tren ekonomi makro, atau berdebat dalam bahasa Inggris dan Arab di forum-forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka menyadari bahwa tugas khalifah fil ardh (wakil Tuhan di bumi) menuntut penguasaan sains dan teknologi.

Hal ini sejalan dengan janji Allah dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11: “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”

Otak yang mendunia berarti memiliki wawasan kosmopolitan. Santri tidak kagetan melihat perbedaan budaya di luar negeri, karena di pesantren pun mereka sudah terbiasa hidup harmonis dengan santri dari berbagai daerah dengan latar belakang yang majemuk. Mereka mampu berpikir secara komprehensif (global), namun tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal.

Ketika “lidah yang bertasbih” (spiritualitas/integritas) dikawinkan dengan “otak yang mendunia” (Intelektualitas/Profesionalitas), lahirlah sosok pemimpin global paripurna.

Pemimpin dengan profil santri ini adalah mereka yang bisa duduk berunding di meja bundar Wall Street atau Silicon Valley untuk membahas investasi triliunan rupiah, namun ketika azan berkumandang, mereka tidak segan menepi untuk bersujud. Mereka memandang jabatan, gelar, dan jaringan internasional bukan sebagai ajang pamer (flexing), melainkan sebagai alat untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada kemanusiaan.

Rasulullah SAW telah meletakkan standar tertinggi kepemimpinan dan eksistensi manusia dalam sebuah hadits yang sangat populer: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Menjadi pemimpin global bagi seorang santri bukan tentang menaklukkan bangsa lain, melainkan tentang seberapa besar solusi yang bisa ia berikan untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan di level global.

Dunia tidak kekurangan orang pintar, perguruan tinggi bergengsi mencetaknya setiap tahun. Namun, dunia sangat kekurangan orang pintar yang benar, teguh pendiriannya, dan bersih hatinya.

Santri modern harus berani keluar dari zona nyaman, merebut panggung-panggung strategis dunia, dan membuktikan bahwa ajaran Islam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dengan lidah yang terus bertasbih merawat moralitas, dan otak yang terus mendunia menembus batas ilmu pengetahuan, santri bukan sekadar penjaga gawang tradisi, melainkan arsitek peradaban masa depan.