Degradasi tak selalu menjura dari kurangnya kemampuan, bukan pula karena sempitnya kesempatan. Tapi lebih sering berakar dari sesuatu yang lebih sunyi yakni hilangnya kepedulian. Ketika kepedulian melemah, raga hanya digerakkan oleh kebiasaan, bukan kesadaran, disiplin kehilangan ruhnya dan kekuatan fisik pun menua sebelum waktunya. Jihad yang sejatinya adalah keselarasan gerak dan jiwa turun derajat menjadi endapan aktivitas tanpa makna, saat kepedulian terhadap intelektual memudar, akal tak lagi diasah, hanya dipakai seperlunya. Membaca terasa beban, berpikir menjadi lelah lalu bertanya dianggap gangguan. Lantas Ilmu kehilangan keagungannya.

Lebih sunyi lagi, ketika kepedulian spiritual mulai ditinggalkan, niat tak lagi bercakap dengan hati, do’a hanya sebatas kata, ibadah menjelma sebagai gerak tanpa rasa, padahal manusia adalah kesatuan dari tubuh yang perlu dijaga, akal yang perlu disapa dan hati yang rindu disentuh makna. Sebenarnya sesuatu dapat tetap hidup dan bereksistensi bukan semata karena hadirnya orang-orang pintar dan kuat, melainkan karena adanya orang-orang yang peduli. Sebab kepedulian melahirkan kesadaran, dan kesadaran menuntun manusia untuk belajar, hingga menambah wawasan. Kepedulian membangunkan tanggung jawab, dan tanggung jawab menggerakkan latihan, hingga melahirkan kekuatan.

Tanpa kepedulian, kepintaran menjadi arogan, kekuatan menjadi liar, dan spiritualitas menjadi simbol belaka, hilangnya kepedulian itu tak melulu datang sebagai badai, ia hadir sebagai gerimis yang dibiarkan, pelan, nyaris tak terasa hingga tanah hati tak lagi subur untuk menerima guyuran nasehat. Seorang santri bangun sebelum subuh bukan karena rindu untuk bermunajat melangkah cepat tapi hatinya tertingal berat. Ada pula dulu yang menjaga adab dengan aturan, ia akrab pada waktu, ia bertanggung jawab, kini tetap taat tapi hanya sejauh mana ia terlihat oleh pengurus yang berada setempat. Di kelas kitab terbuka lebar tapi fikiran tertutup rapat, catatan ditulis rapi dengan pena tapi ilmu berhenti di tinta. Di pengajaran ilmu disampaikan sempurna namun keteladanan tenaga pendidik terlalaikan, anak didik diminta tepat waktu sedang janji ustad sering tertunda rayu. Menegur santri untuk rendah hati tapi ego tidak dikoreksi. Jiwa-jiwa itu memilih untuk aman dari pada harus memilih sadar. Pondok nyang besar bukan diukur dari kerasnya aturan, melainkan dari lembutnya kepedulian yang mengalir dari atas merata hingga bagian paling bawah.

Yang perlu kita lakukan adalah menyusuri jalan pulang untuk rasa kepedulian, solusi pertama bukan menambah aturan, tetapi menghidupkan niat yang lama tertidur. Dimulai dari para pengajar untuk menyapa santri tanpa menunggu mereka menunduk, menanyakan kabar dan keadaan yang bukan sebagai formalitas, itu penting karna satu kalimat perhatian lebih mendidik daripada sepuluh lembar nasehat. Pengajar tak harus selalu benar, cukup menjunjung kejujuran karena disitulah santri belajar dan menerka bahwa adab bukanlah opsi ataupun posisi melainkian kerendahan hati. Evaluasi bukan hanya soal pencapaian tetapi tentang keadaan batin yang bisa saja itu berbicara prihal lelah yang tak pernah ditanya, musyawarah harus dihidupkan sebagai ruang aman untuk bicara bukan agenda, mengingat tujuan kita bukan menciptakan manusia sempurna tapi manusia yang terus memperbaiki diri.

Bagi santri hendak kiranya meluruskan niat di setiap pagi meski hanya satu kalimat kecil dalam hati: “aku belajar bukan sekedar bertahan tapi ingin tumbuh dengan berjuang” niat yang diulang, meski lemah, perlahan ia akan menguatkan langkah, karena banyak yang lelah bukan karena beban yang berat melainkan karena tujuan mulai kabur, tidak semua yang baik harus terlihat melainkan harus melewati kerelaan keikhlasan yang paling tulus, santri yang baik akan tahu kapan ia harus beristirahat karena perbudakan terkejam itu terjadi ketika raga dan akal memilih istirahat di kala semuanya belum menyentuh lelah, tidak pernah sama antara lelah dan lemah, tidak semua yang lelah harus di pendam sendirian santri yang dewasa adalah yang tahu kapan kuat menahan dan kapan jujur meminta bantuan, memendam terus bukan tanda tangguh kadang justru tanda lupa peduli pada diri sendiri

Hendak kiranya juga bagi para santri untuk merawat adab meski hati sedang letih, itulah cermin ilmu yang sebenarnya, beri waktu untuk merenung, bukan hanya menjalani. Tanya pada diri sendiri apa yang hari ini aku jaga, refleksi sederhana ini, sering kali menyelamatkan hati dari kering yang berkepanjangan. Terakhir, lelah bukan musuh iman, yang berbahaya adalah lelah yang dibiarkan tanpa do’a, tanpa cerita, tanpa arah tanpa do’a, Santri boleh capek tapi jangan berhenti peduli pada shalatnya, pada ilmunya dan pada dirinya sendiri

Ada krisis kepedulian di tengah kelimpahan kecerdasan, bahkan di hampir setiap bidang kehidupan pendidikan dan pemerintahan, perusahaan bahkan ruang-ruang ibadah, kita tidak pernah benar-benar kekurangan cendikiawan, gelar bertambah kemampuan meningkat, wawasan meluas teknologi terus menyempurnakan cara berpikir manusia, persoalan hari ini bukan gagal karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena hilangnya kepekaan siapapun tahu mana yang salah namun memilih diam, paham mana yang rusak tetapi merasa itu bukan urusannya, mengerti apa yang perlu diperbaiki namun enggan terlibat karena tidak memberi keuntungan pribadi; di pendidikan, kecerdasan sering berjalan tanpa empati, di lembaga agama dan ilmu tumbuh tanpa cukup adab, di kepemimpinan keputusan lahir tanpa getaran nurani, dan di tempat kerja kompetensi mengalahkan kemanusiaan, hingga kepedulian dianggap kelemahan padahal tanpanya kecerdasan hanya menjadi alat yang dingin dan bisa melukai, sebab peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar melainkan karena orang-orang pintar berhenti peduli, dan pada akhirnya dunia ini tetap berdiri bukan oleh kecerdasan semata, melainkan oleh hati-hati yang masih hidup dan mau merasa.

Tapi berita baiknya adalah, di tengah sunyi zaman yang kerap memuja logika tanpa rasa, masih bersemi asa yang diam-diam menyala, kepedulian menjelma lentera purba penuntun jiwa, menghalau gelap apati yang lama bersemayam di dada, sebab selalu ada insan yang memilih terjaga ketika yang lain terlelap dalam euforia angka, menambal retak dunia dengan empati yang sederhana namun bermakna, menanam kebajikan meski tak segera berbuah nama, percaya bahwa satu hati yang setia pada nurani lebih perkasa daripada seribu akal tanpa cinta. Maka perlahan peradaban kembali bernapas lega, ditopang tangan-tangan ikhlas yang bekerja tanpa hiruk puja, dan dari sanalah hari esok dirajut tenang, manusiawi, dan penuh cahaya.

Saat ini adalah zaman yang sangat mudah untuk melakukan sesuatu, sebab akses terbuka dan segala hal serba tersedia, namun pada saat yang sama menjadi zaman yang paling sulit dalam mendidik, karena kecepatan mengalahkan kedalaman, informasi mendahului pemaknaan, dan keteladanan sering tenggelam oleh hiruk hiburan, hingga mendidik tak lagi cukup dengan ilmu dan aturan, tetapi menuntut kesabaran panjang, kehadiran utuh, serta keteguhan hati di tengah dunia yang gemar jalan pintas.