
Al-Amien Prenduan, TMI – Santri Ma’had TMI Al-Amien Prenduan mulai hari ini mengikuti pelaksanaan Ujian Akhir Tahun, Tahun Ajaran 1446/1447 H. (2025/2026 M.). Dimulai dari Ujian Tahriri (Tulis) yang dibuka hari ini secara serentak di ma’had putra dan putri, Ahad (18/01).
Baca Juga: Kedua Kalinya, Santri Kelas Akhir TMI Laksanakan RTT ke UIN Surakarta
Dalam upacara pembukaan di ma’had putra, Pengasuh TMI KH. Dr. Ghozi Mubarok, MA., menyampaikan nasihatnya di depan para santri dan jajaran asatiz yang hadir. Setidaknya ada dua poin penting yang disampaikan.
Mengawali nasihatnya, Kiai Ghozi menegaskan tentang hakikat dari sebuah ujian. Menurutnya, semua hamba Allah akan diuji dalam setiap bagian dari hidupnya, “Orang yang kaya, dia diuji dengan kekayaannya. Orang yang pintar diuji dengan kepintarannya. Yang miskin diuji dengan kemiskinannya. Yang bodoh diuji dengan kebodohannya. Semua orang, semua manusia akan menghadapi ujian-ujian itu dalam setiap bagian dari hidupnya tanpa terkecuali.”
“Itu fakta pertama, prinsip pertama yang diajarkan oleh guru-guru kita tentang ujian. Jadi kamu dimanapun, tidak akan bisa menghindar dari ujian,” sembari mempertegas di depan santri.


Melanjutkan poin yang kedua, putra sulung Alm. KH. Muhammad Idris Jauhari itu memaparkan tentang bagaimana ujian itu bisa menaikkan atau merendahkan manusia. “Yang kedua, ujian itu bisa menaikkan kita atau merendahkan kita, tergantung bagaimana kita menyikapi ujian tersebut,” lanjutnya.
“Kalau kita lulus, kita mulia. Kalau tidak lulus, kita menjadi gagal. Berpotensi untuk tidak mulia. Karena itu setiap ujian itu pasti ada lulus, pasti tidak lulus. Pasti ada yang lulus, kemungkinan ada juga yang tidak lulus. Nah yang tidak lulus itu bukan hanya ujian dalam bentuk kesusahan saja. Ini juga kita tahu. Yang tidak lulus itu bukan hanya orang yang diuji dengan kemiskinan. Orang yang diuji dengan kekayaan juga kadang-kadang tidak lulus,” jelasnya secara gamblang.
“Dalam Al-Quran misalnya ada orang namanya Korun. Antum tahu itu? Dianugerahi kekayaan yang luar biasa, tetapi kekayaan itulah yang merusak dia serusak-rusaknya,” kutip Pengasuh.
Diakhir tausiahnya, Kiai Ghozi berharap santri bisa bersungguh-sungguh dalam menghadapi ujian. “Kalau ujian itu memerlukan syukur, maka syukur yang kita berikan adalah syukur yang paling hebat. Kalau ujian itu memerlukan sabar, maka sabar yang kita berikan adalah sabar yang paling sempurna. Kalau ujian kita membutuhkan belajar, maka belajar yang kita curahkan, belajar yang kita berikan adalah belajar yang paling sungguh-sungguh. Nah itu yang harus kalian lakukan,” pungkas Beliau.

Baca Juga: Mudir ‘Aam Dampingi Langsung Kunjungan RTT Santri TMI Putra ke UNIDA
Ujian Tahriri akan berlangsung hingga 28 Januari 2026, disusul setelahnya pelaksanaan Ujian Syafahi (Lisan) selama lima hari, 01-05 Februari 2026. (Zn)
