
Manusia adalah subjek sejarah, bukan alam atau hukum-hukum lainnya. Itu artinya, peranan manusia yang berkesadaran sangat menentukan arah kehidupan—yang lebih ideal dari hari ke hari. Nasihat Nabi Muhammad, seseorang yang hari ini lebih baik dari kemarin termasuk golongan beruntung, seseorang yang tidak lebih baik merupakan golongan merugi, sementara seseorang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin termasuk golongan yang celaka. Ironisnya, manusia hari ini pada umumnya adalah manusia yang jauh dari mentalitas untuk semakin baik dari waktu ke waktu.
Berapa banyak mereka yang abai, seakan tidak memiliki andil dalam kehidupan berkemajuan. Bahkan, berpaling dari ajakan menuju kesuksesan. Bukti konkretnya, manusia saat ini cenderung sangat nyaman rebah-rebahan, ingin serba instan, lupa akan waktu dan tanggung jawab terhadap masa depan. Akibatnya, kemajuan zaman tidak termanfaatkan secara maksimal, justru menjadi senjata yang mengancam diri sendiri. Lebih mengkhawatirkannya lagi, kecenderungan itu telah merambat hampir ke seluruh lapisan masyarakat sehingga jika tidak kunjung menemukan jalan keluar, tidak sekadar individu, bangsa pun akan mengalami kemunduran.
Melihat realitas di atas, yang paling memungkinkan menjadi agent of change adalah santri. Jika kehidupan manusia hari ini pada umumnya cenderung seperti halnya terkemukakan, maka tidak demikian dengan kehidupan di pesantren. Para santri hampir tidak memiliki waktu luang, seluruh waktu mereka terisi kegiatan positif, mulai dari bangun mendirikan salat, mengaji, Kegiatan Belajar Mengajar, sampai aktivitas yang mengasah minat dan bakat. Waktu tidur mereka juga cukup terbatas, kisaran 5 jam setiap harinya. Memang terkesan melelahkan, tetapi ini jalan solutif demi melepaskan diri dari tawanan sejarah dan menjawab tantangan zaman.
Misalnya juga, dalam proses pemelajaran: Adalah para santri yang paling konsisten menghadapi intellectual purgatory; perumpamaan yang merujuk pada proses yang melelahkan, menyakitkan, dalam belajar dan mengembangkan pemikiran. Mereka tidak seperti kalangan lain yang dengan mudahnya mengakses AI dan sejenisnya untuk menyelesaikan tugas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), tanpa peduli proses kreatif atau valid tidaknya data yang tertulis. Meski minim akses, para santri dengan mentalitasnya, ketabahannya dalam menuntut ilmu, mengkaji banyak kitab dan buku-buku, seakan hendak mengutarakan pernyataan Imam Syaifi`i di hadapan khalayak, jika kalian tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka harus sanggup menahan perihnya kebodohan.
Demikian sebagian mentalitas santri. Meneladani atau mengaplikasikan mentalitas mereka merupakan lensa dalam menata kehidupan dan membangun sejarah. Mentalitas santri tak ubahnya kompas yang menunjukkan jalan, tahu arah tujuan, di tengah tipu daya zaman yang semakin hari terasa semakin mengkhawatirkan. Itu sebabnya, dalam konteks yang universal, kalangan lain harus memandang santri sekaligus mentalitasnya tidak sekadar simbol sosial, melainkan realitas yang secara subtantif fungsional.

Masya Allah sangat menginspirasi banget ust