
Akhir-akhir ini, pesantren kembali menjadi sorotan setelah sebuah tayangan televisi nasional menampilkan narasi negatif “tradisi” pesantren. Tayangan itu dengan cepat memantik perdebatan luas di media sosial, hingga muncul narasi adanya “feodalisme”, “perbudakan”, dan “pencucian otak” di lingkungan pesantren.
Efeknya seperti gelombang yang membesar di ruang gema digital. Begitu satu narasi sensasional muncul, terutama yang menyentuh isu sensitif seperti pesantren, opini publik langsung berputar cepat dan tak terkendali. Netizen membentuk tafsir sendiri, hingga melahirkan perdebatan yang jauh dari substansi awalnya.
Dalam situasi seperti ini, fokus publik sering bergeser dari kritik terhadap isi tayangan menjadi ajang perdebatan ideologis tentang benar dan salah. Isu tentang pendidikan pesantren tiba-tiba dikaitkan dengan politik Islam, relasi kekuasaan, bahkan tuduhan ekstrem terhadap tradisi keagamaan. Kritik yang sehat seharusnya diarahkan pada perilaku menyimpang yang benar-benar terjadi, bukan pada sistem pendidikan pesantren secara general yang selama ini justru menjadi benteng moral dan ilmu di tengah masyarakat.
Sebagai bagian dari pesantren, saya tak menolak kenyataan bahwa ada oknum yang mencederai nilai pesantren. Tetapi menampilkan pesantren besar seperti Lirboyo dalam konteks yang menuduh dan menyesatkan, sama saja dengan membentuk opini publik tanpa dasar. Ini bukan sekadar soal kesalahan informasi, melainkan framing yang menciptakan persepsi keliru di benak masyarakat yang tak mengenal kultur pesantren.
Padahal hubungan kiai dan santri bukan relasi kuasa, melainkan relasi kasih dan transmisi nilai. Seorang kiai mengajarkan bukan hanya teks agama, tapi jalan untuk mengenal Tuhan, Rasul, dan adab lain seperti cara memuliakan orang tua. Dalam tradisi ini, penghormatan kepada guru bukanlah tunduk kepada manusia, tetapi bentuk kesadaran spiritual: bahwa melalui guru, ilmu dan keberkahan diturunkan.
Gestur seperti mencium tangan, menunduk, atau berbicara sopan bukanlah simbol perbudakan. Itulah symbol dan ungkapan cinta, cara kami menjaga adab, karena dalam tradisi pesantren, adab adalah ruh dari ilmu. Ilmu tanpa adab kehilangan cahaya.
Beragam reaksi dari santri dan alumni di media sosial memperlihatkan dinamika yang wajar dalam komunitas besar seperti pesantren. Ada yang menanggapinya dengan tenang dan argumentatif, ada pula yang terbawa emosi karena cinta dan hormatnya pada para guru. Namun di era keterbukaan informasi, kita semua perlu membekali diri dengan literasi komunikasi yang baik agar setiap pembelaan terhadap pesantren disampaikan dengan adab, dengan bahasa yang mencerahkan, bukan yang memecah.
Kita tidak bisa membendung arus komentar netizen, tapi kita bisa memilih cara menjawabnya. Tidak semua kritik harus dibalas dengan kemarahan; sebagian justru perlu dijawab dengan penjelasan dan keteladanan. Karena pesantren sejatinya bukan lembaga yang menundukkan manusia pada manusia lain tetapi ruang yang menundukkan hati pada kebenaran.
Pesantren lahir dan tumbuh bukan untuk dirinya sendiri, ia hidup bersama masyarakat menjadi tempat belajar, tempat berkhidmat, dan rumah bagi siapa saja yang mencari ketenangan batin serta pencerahan ilmu. Seorang kiai hidup untuk santrinya tidak hanya mengajarkan kitab, tetapi menuntun dengan keteladanan: melalui kesederhanaan, kesabaran, dan cinta yang tulus. Bagi santri, kiai bukan sekadar guru, melainkan mursyid spiritual yang menuntun langkah menuju Allah dengan ilmu, doa, dan keikhlasan.
Dari hubungan yang dibangun atas dasar ilmu dan keikhlasan itu, tumbuhlah rasa cinta yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Cinta yang membuat santri menunduk penuh hormat, bukan karena takut, tetapi karena sadar akan jasa dan ketulusan gurunya. Dari cinta itulah lahir adab dan dari adab itulah mengalir keberkahan.
Inilah ruh sejati pesantren: tempat ilmu dirawat dengan keikhlasan dan pengabdian, serta tempat manusia ditempa dengan kasih.
