Negara, Santri, dan Agama

Pepatah mengatakan: “Kebaikan yang tidak dikelola dengan baik akan dikalahkan oleh kejahatan yang dikelola dengan baik.” Pepatah ini terasa sangat relevan jika kita melihat kondisi Indonesia saat ini.

Sebenarnya, jumlah orang jahat di negeri ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan orang baik. Namun, karena orang-orang baik lebih memilih diam, enggan ikut mengurus bangsa, sementara di sisi lain orang-orang jahat terorganisir dan saling mendukung, maka negeri ini dikuasai oleh oknum-oknum penguras kekayaan yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan jabatannya. Bahkan ada yang bersembunyi di balik agama dan pengetahuan untuk menjatuhkan orang-orang yang mengancam kepentingan mereka.

Kita sering tidak menyadarinya, atau bahkan tidak tahu, karena mereka bergerak secara halus, di balik layar. Lengah sedikit, ratusan triliun rupiah raib. Lengah lagi, kuadriliunan ikut hilang. Bukan bermaksud menyinggung kasus lama, tapi siapa yang bisa melupakan angka nol yang jumlahnya lebih banyak dari jari kita?

Apa kabar Indonesia saat ini? Jawabannya: tidak baik-baik saja. Tak perlu disebutkan satu per satu, seluruh rakyat Indonesia tahu bagaimana wajah negara kita hari ini.

Namun, persoalan ini tidak sesederhana hitam dan putih. Tidak hanya ada gelap dan terang. Ada yang setengah gelap, setengah terang, ada pula gelap keterang-terangan dan terang kegelap-gelapan.

Kalimat “Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah” bukan lagi hal asing. Bahkan terdengar seperti dongeng nenek moyang. Begitu juga dengan aturan tak tertulis seperti: “Kalau mau kerja, harus punya orang dalam.” Sedihnya, hal ini bukan rahasia lagi.

Lihat pula dunia pendidikan. Di banyak tempat, murid seakan lebih berkuasa daripada gurunya, bersembunyi di balik status donatur atau nama besar orang tua. Padahal, seharusnya semua siswa menempati posisi yang sama di bangku sekolah.

Padahal dunia pendidikan adalah medan perjuangan (jihad) yang sangat strategis dari sudut pandang Islam. Jika dilakukan karena Allah, pelakunya akan mendapat predikat “Mujahid fii Sabilillah.” Semua pengorbanannya akan diganjar kemudahan menuju surga. Tetapi jika dalam perkara menuntut ilmu saja kita berbuat curang, apa yang akan terjadi ketika orang-orang seperti ini terjun ke masyarakat? Apalagi jika mereka memegang jabatan penting dalam politik?

Kalau yang benar dibungkam, sementara yang salah diberi panggung, mau dibawa ke mana negara ini? Jika bukan kita—generasi penerus bangsa—yang bergerak dan menyuarakan kebenaran, lalu siapa lagi?

Memang masih terlalu dini bagi saya untuk membahas ini. Namun, fakta di lapangan jelas terlihat: pendidikan di sekolah negeri, swasta, dan pesantren memiliki perbedaan yang sangat mencolok, baik dari sisi materi pelajaran, lingkungan, maupun pembentukan karakter.

Karena itu, penting bagi kita untuk bijak memilih tempat menuntut ilmu. Pesantren adalah salah satu pilihan strategis. Di sana kita tidak hanya mendapatkan ilmu umum untuk masa depan, tetapi juga ilmu agama untuk bekal akhirat dan keterampilan hidup bermasyarakat. Pesantren adalah miniatur masyarakat yang akan memudahkan kita beradaptasi di kehidupan nyata.

Jadwal yang padat dan kegiatan yang terstruktur akan membiasakan kita hidup disiplin, meninggalkan sifat malas, dan terbiasa dengan kesibukan. Karena sejatinya, tidak ada orang sukses yang gemar bermalas-malasan.

Di tempat mulia ini, kita mendapat gelar “Mujahid fii Sabilillah”—pejuang di jalan Allah di era modern—tanpa harus ikut perang Khaibar, Uhud, atau Badar. Bahkan, santri yang wafat saat menuntut ilmu di pesantren termasuk mati syahid, dengan balasan surga.

Sebagai pemuda-pemudi Indonesia, kita harus awas, jeli, dan sadar dengan apa yang terjadi pada negeri ini. Saat orang-orang dewasa tak lagi bisa diandalkan, maka satu-satunya cara adalah mengandalkan diri kita sendiri.

الاعتماد أساس النجاح

“Bersandar pada diri sendiri adalah dasar kesuksesan.”