
Di lingkungan pesantren, kehidupan berjalan dalam ritme yang nyaris tak pernah berhenti. Sejak fajar menyingsing hingga malam datang, para pendidik terus bergerak: mengajar, membimbing, mengarahkan, dan membersamai santri dalam berbagai aktivitas. Dari luar, semua tampak hidup. Penuh gerak. Penuh harakah.
Namun, di tengah derasnya arus aktivitas itu, ada satu hal yang sering luput disadari: tidak semua gerakan adalah kehidupan. Tidak semua kesibukan adalah kemajuan. Ada kalanya, yang terjadi justru sebaliknya, gerak yang terus berulang perlahan kehilangan makna, berubah menjadi rutinitas yang kering, bahkan melelahkan tanpa arah.
Rutinitas memang menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan pesantren. Ia membentuk disiplin, menanamkan kebiasaan baik, dan menjaga keteraturan. Tetapi ketika rutinitas dijalani tanpa kesadaran, tanpa kehadiran hati, tanpa pembaruan niat dan tujuan, maka ia berubah menjadi jebakan yang halus. Seseorang tetap mengajar setiap hari, tetapi hatinya tidak lagi hadir dalam pengajaran itu. Ia tetap membimbing, tetapi tidak lagi merasakan tanggung jawab ruhiyah di dalamnya. Gerakan tetap ada, tetapi ruhnya perlahan menghilang.
Dalam sebuah ungkapan disebutkan, “Bukanlah perkara utama itu sekadar bergerak, tetapi mengetahui ke mana arah gerakan itu.” Kalimat ini sederhana, namun mengandung kedalaman yang luar biasa. Ia mengingatkan bahwa gerak tanpa arah hanya akan melahirkan kelelahan, dan aktivitas tanpa kesadaran hanya akan menjadi pengulangan kosong.
Di sinilah pentingnya memahami kembali makna harakah. Harakah bukan sekadar aktivitas fisik yang berulang-ulang. Ia bukan hanya soal hadir di kelas, menyampaikan materi, atau menjalankan tugas harian. Harakah yang sejati adalah gerakan yang lahir dari kesadaran, berjalan dengan arah yang jelas, dan menghasilkan dampak yang nyata. Tanpa itu semua, gerakan hanya akan menjadi beban yang terus diulang tanpa pernah benar-benar menghidupkan.
Al-Qur’an memberikan isyarat yang sangat mendalam dalam hal ini: “Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39). Ayat ini bukan hanya berbicara tentang pentingnya usaha, tetapi juga tentang nilai dari usaha itu sendiri. Seakan Allah mengingatkan bahwa yang dihitung bukan sekadar banyaknya aktivitas, tetapi kualitas, kesadaran, dan arah dari usaha tersebut.
Dalam konteks pesantren, harakah yang barakah bukanlah yang paling sibuk, tetapi yang paling bermakna. Ia adalah gerakan yang dilakukan bersama, dalam kebersamaan yang saling menguatkan, bukan dalam kesendirian yang melelahkan. Rasulullah mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya, “Tangan (pertolongan) Allah bersama al-jama’ah.” Kebersamaan bukan hanya memperingan beban, tetapi juga menghadirkan keberkahan yang tidak bisa diraih sendirian.
Di saat yang sama, harakah yang barakah lahir dari kesadaran yang terus dijaga. Seorang pendidik tidak sekadar menjalankan peran, tetapi menghidupinya. Ia menyadari untuk apa ia mengajar, kepada siapa ia mengabdi, dan nilai apa yang ingin ia tanamkan. Tanpa kesadaran ini, amal sebesar apa pun bisa kehilangan nilainya. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa amal yang besar bisa menjadi kecil karena hilangnya niat, dan amal yang kecil bisa menjadi besar karena hadirnya keikhlasan dan kesadaran.
Lebih dari itu, harakah yang hidup selalu melahirkan sesuatu. Tidak harus selalu besar dan spektakuler. Terkadang, perubahan kecil dalam diri seorang santri, tumbuhnya adab, atau munculnya kesadaran belajar adalah hasil yang jauh lebih berharga. Sebab dalam pandangan Allah, tidak ada yang sia-sia. “Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara sia-sia?” (QS. Al-Mu’minun: 115). Jika penciptaan saja penuh makna, maka aktivitas mendidik pun seharusnya jauh dari kesia-siaan.
Jebakan rutinitas sering kali tidak terasa karena ia dibungkus dengan kesibukan yang tampak mulia. Seseorang merasa telah banyak berbuat, padahal yang terjadi hanyalah pengulangan tanpa pembaruan. Di titik inilah seorang pendidik perlu berhenti sejenak, bukan untuk berhenti bergerak, tetapi untuk memastikan bahwa setiap gerakan masih memiliki makna. Bahwa setiap langkah masih memiliki arah. Dan bahwa setiap aktivitas masih melahirkan dampak, meski kecil.
Akhirnya, menjadi pendidik di pesantren bukan sekadar tentang menjalani jadwal, tetapi tentang menghidupkan peran. Bukan tentang seberapa banyak kita bergerak, tetapi seberapa dalam kita menyadari setiap gerakan itu. Karena bisa jadi, yang melelahkan bukanlah banyaknya aktivitas, tetapi hilangnya makna di dalamnya.
Dan mungkin, kita perlu terus mengingat ungkapan ini: “Gerakan tanpa kesadaran adalah kelelahan, gerakan tanpa tujuan adalah kesesatan, dan gerakan tanpa hasil adalah kehampaan.” Dari sinilah kita belajar bahwa harakah yang barakah bukanlah yang sekadar tampak hidup, tetapi yang benar-benar menghidupkan.
*terinspirasi dari tausiah Pengasuh dalam kumpul pekanan di diwan ma’had TMI Putri
