
Madilog, buku monumental yang dikarang oleh tokoh revolusioner tanah Minang yang dikenal sebagai Datuk Tan Malaka, ini membawa peradaban baru dan tata cara berpikir sekaligus pandangan hidup sebagai orang berintelektual. Pengaruh briliannya membasmi pengkultusan mitologi yang diagung-agungkan oleh banyak kalangan, meskipun tidak memberikan rasionalitas pada pemikiran yang jernih. Bagaimana tidak, Datuk Tan Malaka berhasil memberikan sudut pandang pada suatu momen yang tidak lagi asing dalam benak kita, terkhusus bagi kalangan akademisi.
Madilog; Materialisme, Dialektika, dan Logika ini bertujuan membawa alam pemikiran manusia untuk tetap mengedepankan rasionalitas dan logika dalam berpikir. Kita yang merupakan kaum Muslimin terkadang terkecoh oleh adanya doktrin kebudayaan yang merampas alam pikiran bebas kita. Bagaimana tidak, sering kali kita didoktrin dengan takhayul dan legenda yang tidak teruji secara empiris dan aktual. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hegel, tokoh filsuf Jerman, bahwa “sesuatu yang rasional sudah pasti real, dan segala sesuatu yang real sudah pasti rasional.”
Islam sudah terkenal sejak 1400 tahun yang lalu. Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam dimulai di Mekkah kepada kaum Quraisy. Penyebaran Islam sendiri didalangi oleh insan sempurna yang diutus langsung oleh Tuhan kepada kaum Quraisy, seorang anak keturunan suku Quraisy yang kemudian mempelopori peradaban Islam di tanah Arab. Sebelum Islam masuk, bangsa Arab terkenal dengan kezaliman dan kemunafikan. Dalam hal ini, keberlangsungan Islam di tanah Arab semakin pesat semenjak Muhammad bin Abdullah diangkat sebagai Rasul.
Di masa kenabiannya, Muhammad tidak hanya berfokus pada penyebaran muamalah saja, melainkan juga kepada perubahan atas konstruksi sosial dan politik yang mulai berkembang pada masa itu. Basil Bunting, seorang penyair terkemuka berkebangsaan Inggris, mengatakan bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang, namun tidak dengan puisi—hanya ditulis oleh mereka yang sakit hati. Sebagai awal munculnya peradaban baru dan catatan sejarah peradaban Islam, tentu bangsa Arab terkenal dengan syair-syairnya yang kemudian dikembangkan kala itu.
Sebagai seorang Muslim yang percaya atas keberadaan Tuhan, perjalanan peradaban Islam tidak semata-mata langsung berkembang pesat begitu saja. Bermula dari pemahaman animisme yang beranggapan bahwa patung dinobatkan sebagai pemberi rahmat, tentu klaim demikian berakibat fatal pada proses berpikir manusia.
Tanpa adanya sebuah pengetahuan kerohanian atau idealisme dan materialisme, tentu masyarakat kita akan kembali pada ketertinggalan sains dan perkembangan modern. Bagaimana tidak, masyarakat Hindia Belanda dulunya percaya kepada bab-bab takhayul yang tidak bisa dicerna oleh akal sehat. Faktor inilah yang menyebabkan ketertinggalan masyarakat Indonesia dalam bidang pengetahuan dan kefilsafatan.
Tidak kalah menariknya, pada abad ke-14 pencetusan pondok pesantren mulai berkembang di tanah Jawi kala itu. Dalam berbagai versi, ada yang menyebut muncul sejak tahun 1745, ada juga yang mengatakan pada tahun 1475. Munculnya perkumpulan ini kemudian melahirkan tokoh-tokoh visioner yang berdedikasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai sosok yang memiliki religiusitas tinggi, para penyandang gelar santri berhasil memadukan cara pandang secara harfiah dan alamiah dalam perkembangan dunia intelektual.
Harapan besarnya terletak pada sosok santri dengan ciri khas dan kegigihan dalam menimba ilmu untuk kemudian melanjutkan estafet renaissance di zaman yang penuh kebohongan serta kemunafikan ini. Dunia pesantren sendiri sudah lebih dulu menanamkan ketahanan berpikir rasional dalam interpretasi sebuah pandangan mistik kebudayaan yang berkembang. Sebagai rekonstruksi sosial sebelum Tan Malaka menulis tentang rasionalisme dan silogisme, santri sudah lebih dulu memanfaatkan interdisipliner keilmuan untuk menjaga akal sehat manusia agar tidak terjebak dalam dunia mistik.
Para santri memberikan pemahaman bahwa sebelum mengambil tindakan, diutamakan berpikir terlebih dahulu (faqqir qabla anta‘dzima) agar tidak salah dalam mengambil suatu kebijakan maupun keputusan. Perkembangan tersebut memberikan refleksi bagi masyarakat bahwa santri seperti bintang gemilang di era penyebaran mistik yang membelenggu pola pikir dan kehidupan masyarakat mengenai keberadaan Tuhan dan pengaruh peradaban Hindu–Buddha kala itu. Bahkan budaya leluhur berhasil diubah dengan pengaruh para tokoh-tokoh Islam yang menyebarkan syariat Islam di tanah Jawa.
Pemahaman atas konstruksi Tuhan tentu bukan menjadi ulasan utama pada tulisan ini. Sebelum datangnya kepercayaan kepada teologi seperti Islam, Yahudi, dan Nasrani, para filsuf sudah memberikan sudut pandangnya tentang pemahaman rasionalitas dalam cara berpikir manusia. Pada akhirnya, imperialisme datang mengubah nuansa Nusantara menjadi surplus pembodohan yang dibuat-buat oleh negara penjajah, hingga masyarakat tidak lagi memiliki pandangan idealisme dalam menyikapi konstelasi sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan.
Materialisme
Barat berhasil mengembangkan pola pikir rasional untuk menyikapi segala entitas kehidupan sosial yang menimpa masyarakat. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, filsafat sudah menjadi akar dari segala ilmu, baik yang berbau sains maupun umum. Semenjak peredaran agama semakin pesat, sumber ilmu terlahir akibat adanya pertanyaan tentang Tuhan dan eksistensinya. Namun, perkembangan zaman tidak lagi terstagnasi pada persoalan ketuhanan. Sebagai pelopor dalam bidang keilmuan, tentu orang Barat sering mengatasnamakan keabsahan adanya sebuah pengaruh kebendaan dalam hidup manusia. Sebagai zoon politicon, menurut Aristoteles, manusia akan menjadi pelopor atas tersiratnya suatu pencapaian yang berlebih dalam hidup, baik yang berbentuk materil maupun immateril.
Maka, sebagai seorang santri juga harus memberikan edukasi rasional yang mudah ditangkap oleh nalar pikir manusia. Sebab itu, santri juga harus menjadi pemotor utama terhadap kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan, mengingat Mahfudzat yang berbunyi: Laulal ‘Ilma Lakaanan Naasu Kal Bahaa’im (Kalaulah bukan karena ilmu, niscaya manusia itu seperti binatang). Maka, sebagai insan yang rahmatan lil ‘alamin, kita harus menanamkan bahwa sesuatu yang bersifat kebendaan tidak harus dipertuhankan. Maka, bagi Tan Malaka: “Lapar bukan berarti kenyang untuk si miskin. Si lapar yang kurus kering tak akan bisa kita kenyangkan dengan kata kenyang saja, meskipun kita ulangi 1001 kali.” Pada intinya, jika kamu lapar, mau kamu bilang seribu kalipun, jika tidak ada wujudnya (materil), maka tidak akan kenyang. Sebab itu, lapar tidak kemudian bisa dituntaskan dengan bualan atau retorika semata.
Kecenderungan Tan Malaka mengibaratkan bahwa segala sesuatu itu harus berwujud tidak serta-merta datang seperti halnya kekuatan yang datang atas dasar takhayul semata. Pemikiran santri itulah yang kemudian juga harus menyadarkan bahwa segala sesuatunya itu butuh proses dan bercengkrama agar dapat terwujud sebagaimana yang dituntun secara syariat dan agama.
Dialektika
Tan Malaka mengajarkan tata cara berpikir secara logis jika terjadi suatu kesenjangan pemikiran, baik secara harfiah maupun alamiah. Semua harus terselesaikan pada dimensi-dimensi rasionalitas untuk kemudian mempercayai suatu hubungan tragedi. Secara empiris, mungkin Yunani lebih dulu memberikan pandangan rasionalitas mengenai kehidupan. Lebih dari 504 tahun sebelum Masehi, pengaruh Plato dan Aristoteles menjadi konsepsi kontroversial di kalangan berpikir kaum intelektual.
Dialektika adalah suatu pemecahan masalah yang menjadi pengkultusan masyarakat untuk menerangkan bahwa keberadaan benda yang dimistikkan harus dibuktikan secara fakta dan dengan data-data yang jelas. Tidak hanya berasumsi lalu diaminkan oleh khalayak umum tanpa adanya pembuktian. Mengimani hal yang gaib adalah bentuk iman kita kepada Sang Ilahi, namun jika menyimpang maka sosok santri harus berdedikasi tinggi untuk memberikan gambaran dan pandangannya secara rasional.
Islam sendiri mengajarkan agar selalu mendorong untuk berpikir, merenung, dan bertanya agar tidak mudah tersesat dan terjerumus pada lingkaran kesesatan. Pada tahap inilah santri hadir memberikan pandangan tentang pentingnya suatu keabsahan yang kita tangkap melalui pancaindra, bertarung dengan dasar argumentasi kuat untuk memberikan sudut pandang mengenai suatu hal yang tidak mudah ditangkap oleh nalar yang kemungkinan dapat berakibat pada substansi dasar dari sesuatu yang kita percayai.
Logika
Penyampaian diatas bukan kemudian menghilangkan sesuatu yang sudah menjadi sebuah ketetapan tuhan, melainkan memberikan suatu kesadaran holistik untuk perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus tata cara berfikir rasio, Descartes seorang filsuf yunani menagatakan cogito ergo suun (aku berfikir maka aku ada), tan malaka juga demikian memberikan kunci pada setiap masyarakat agar tidak mudah terbelenggu pada hal-hal yang kemudian terbantahkan oleh pemikiran kita.
Dunia hampir terbakar oleh takhayul namun filsafat memadamkannya, artinya pemikiran serta pemahaman yang sistematis akan memberikan dampak baik pada tatanan berfikir manusia, “Berpikirlah segala sesuatu yang ada di alam ini, tapi jangan berpikir tentang dzat Allah,” HR. Ibnu Syaibah.
Begitu pula yang tersampaikan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 44 yang berbunyi:
“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab suci (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?”
Jelas bahwa kita memang dituntut untuk tidak mudah percaya terhadap sesuatu yang berada di luar jangkauan kekuasaan kita. Pembuktian seperti inilah yang harus dikembangkan oleh para penyandang gelar santri agar selalu memberikan sudut pandang yang ilmiah dan terbuka dalam menyampaikan sesuatu yang berbau metafisik.
