Hari Sabtu di akhir bulan Agustus kemarin (27/08/2022), berlangsung acara Apel Tahunan di Pondok, dilanjutkan dengan Parade Konsulat keesokan harinya. Seperti biasa, acara itu berlangsung meriah. Hadir semua santri dan guru, juga para karyawan Pondok. Dari luar, banyak pula alumni yang sengaja datang, termasuk pengurus Korda IKBAL, seperti Korda Pragaan, Korda Sumenep, dan Korda Sampang. Pada edisi Apel Tahunan kali ini ini, bahkan ada satu angkatan alumni yang ikut berdiri membentuk barisan bersama para santri, lalu ikut berparade keesokan harinya. Seingat saya, itu belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka tergabung dalam keluarga besar REFORMIECA, para alumnus TMI angkatan ke-19, lulus tahun 1995, tepat dua tahun sebelum angkatan saya. Bukan hanya mereka. Di belakang barisan peserta Apel Tahunan, saya juga melihat banyak wali santri. Ada dari mereka yang mungkin ingin menyaksikan langsung anak-anak mereka tampil di tengah lapangan dalam sesi penampilan-penampilan. Itu belum menghitung mereka yang menonton Apel Tahunan dari jauh melalui siaran live streaming. Sehari setelah Apel Tahunan, saya melihat video siaran langsung yang diunggah di Youtube pada kanal resmi Pondok telah ditonton oleh sekitar 15 ribu penonton. Pada saat catatan ini ditulis, jumlahnya sudah bertambah menjadi 19 ribuan.

Sebagai sebuah acara resmi Pondok yang paling kolosal, Apel Tahunan memang punya akar tradisi dari masa lalu. Dimulai dari Pondok Modern Darussalam Gontor, lalu diwarisi oleh pondok-pondok alumninya. Dewasa ini, Apel Tahunan mungkin merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang menjadi identitas bersama milik pesantren-pesantren alumni dan “anak-cucu” Gontor. Di Al-Amien sendiri, Apel Tahunan tampaknya sudah diselenggarakan sejak awal mula TMI berdiri. Saya pernah menanyakan hal itu kepada para alumnus angkatan perdana TMI, termasuk Kiai Khoiri Husni dan Ustadz Fatheh Thohir. Seingat mereka, Apel Tahunan sudah ada sejak pertama kali beliau-beliau itu masuk Pondok. Lengkap dengan Parade Konsulatnya. Jika ingatan itu akurat, maka Apel Tahunan di Al-Amien sudah terlaksana sekitar kurang lebih lima puluh kali.

Agak sulit bagi saya untuk membayangkan bagaimana Apel Tahunan dan Parade Konsulat dilaksanakan ketika jumlah santri masih puluhan di awal dekade 70-an. Kata Kiai Khoiri, format Parade Konsulat di tahun-tahun awal itu mirip “karnaval” yang diselenggarakan masyarakat Madura pada umumnya. Itu berarti para santri memoles diri dan penampilan untuk memerankan figur-figur yang telah ditentukan. Saat saya menjadi santri di tahun 90-an, unsur-unsur karnaval semacam itu masih ada, tetapi sudah tidak lagi ditonjolkan. Barisan dibagi per konsulat. Jumlah santri sudah ratusan, mendekati seribu atau lebih sedikit saya kira. Tapi kostum kami masih sangat sederhana dibandingkan kostum para santri sekarang. Oh ya, Parade Konsulat masih disatukan di hari yang sama dengan Apel Tahunan. Jadi, kostum Apel Tahunan sekaligus adalah kostum Parade Konsulat. Malam menjelang Apel Tahunan, pengurus konsulat akan mengumpulkan semua celana—biasanya berwarna hitam—yang akan dikenakan oleh para anggota. Lalu, bagian luar dari masing-masing sisi celana tersebut, kira-kira persis di bagian jahitan, akan ditempeli kertas atau pita memanjang dari atas ke bawah. Hanya itu “aksesoris” yang bisa disematkan untuk membedakan celana kostum Apel Tahunan dengan celana yang kami pakai sehari-hari. Aksesoris lain biasanya di songkok. Pita atau pin atau hal-hal lain semacam itu. Pengurus konsulat juga menentukan warna sepatu. Biasanya hitam. Santri yang sepatunya berwarna putih, atau warna selain hitam, dan tidak punya uang untuk membeli sepatu dengan warna sesuai ketentuan, diizinkan untuk menghitamkan sepatunya dengan merendamnya dalam cairan pewarna. Itu upaya paling maksimal yang bisa dilakukan saat itu. Toh, Apel Tahunan kami tetap meriah semeriah-meriahnya.

Tentu ada banyak perbedaan antara Apel Tahunan di masa lalu itu dengan di masa sekarang. Saat ini, Parade Konsulat dilaksanakan di hari yang berbeda dengan hari Apel Tahunan. Kostum konsulat juga semakin “ramai”. Drumband sudah sejak beberapa tahun yang lalu berubah menjadi Marching Band. Santri sudah ribuan; dan kurang lebih tiga ribu santri putra turun ke jalan dalam acara Parade Konsulat. Di luar Pondok, jalan raya juga tidak sesepi di tahun 90-an dulu. Parade Konsulat jelas mengganggu kenyamanan para pengendara, atau mungkin jadi hiburan bagi sebagian mereka. Apel Tahunan dan Parade Konsulat juga sudah disiarkan langsung melalui siaran live streaming. Dulu, biasa ada prosesi penerbangan bendera atau logo Apel Tahunan dengan menggunakan balon-balon yang diisi gas helium. Tahun ini, bendera Merah Putih, bendera Pondok, dan bendera Apel Tahunan diterbangkan oleh tiga pesawat drone. Ya, memang masih nyewa. Pondok belum punya. Selain itu, baru pada tahun ini pula, ada dua santri yang mengiringi lagu Himne Al-Amien Prenduan dengan permainan biola.

Setiap tahun, kita memang acap kali bertanya-tanya: apa yang baru pada Apel Tahunan kali ini? “Baru” dalam arti sesuatu yang tidak ada di tahun-tahun sebelumnya. Dengan itu, boleh jadi kita lupa bahwa yang membuat Apel Tahunan selalu diselenggarakan setiap tahun adalah sesuatu yang sama, yang tidak berubah, yang tidak boleh tidak mesti ada. Apel Tahunan adalah momen ketika seluruh santri, guru, fungsionaris, karyawan, serta penghuni Pondok bertemu dan berkumpul bersama di satu tempat, di satu waktu. Untuk apa? Untuk mendengarkan dan menyimak pidato Pimpinan Pondok. Karena itu, tajuk Apel Tahunan biasanya digandengkan dengan “Khutbatul ‘Arsy”. Apel Tahunan dan Khutbatul ‘Arsy. Kata yang terakhir itu artinya: “pidato di atas singgasana”. Saya membayangkan bahwa istilah ini muncul di atas asumsi bahwa pada momentum Apel Tahunan itulah Pimpinan Pondok menyampaikan pidato resmi paling penting dalam rentang waktu setahun. Mungkin mirip dengan Pidato Kenegaraan Presiden RI yang biasanya disampaikan sebagai bagian dari rangkaian Peringatan Hari Kemerdekaan. Di Gontor, naskah pidato Pimpinan kabarnya digandakan lalu dibacakan dalam acara Apel Tahunan di masing-masing pondok cabang. Semua santri tanpa terkecuali mendengarkan pidato yang sama meski barangkali dibacakan oleh orang-orang yang berbeda. Dengan menyadari itu, kita menjadi tahu bahwa riuh rendahnya penampilan santri, gemerlapnya kostum konsulat, panjangnya barisan parade, dan hal-hal lain semacam itu—semuanya adalah bagian-bagian yang bersifat relatif ornamental dalam Apel Tahunan. Ia bisa memperindah dan memberi identitas, lalu menjadi penting dan menentukan, tapi bukan di atasnya satu bangunan didirikan.

Dalam Pidato Pimpinan pada Apel Tahunan kali ini, Kiai Ahmad menyampaikan banyak hal. Dimulai dengan ajakan untuk bersyukur kepada Allah SWT dengan syukur yang sebesar-besar dan sebenar-benarnya, terutama karena Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan terus eksis hingga usianya yang ke-70, terus konsisten dengan nilai dan falsafah dasarnya, dan terus dipercaya oleh masyarakat luas. Dalam kaitannya dengan Kesyukuran 70 Tahun Al-Amien Prenduan, beliau juga menyampaikan bahwa kesyukuran ini adalah momentum evaluasi, baik secara internal terhadap program-program Pondok maupun secara eksternal terhadap kiprah alumni di tengah masyarakat. Selanjutnya, Kiai Ahmad juga mengajak seluruh santri untuk memahami hakikat Pondok secara utuh, meluruskan niat dan komitmen, serta percaya sepenuhnya kepada Pimpinan dan para Kiai. Secara khusus, Kiai Ahmad juga menekankan pentingnya para penghuni Pondok untuk menjaga dan mempertahankan shibghah ke-Al-Amien-an, yakni jati diri dan karakter khas “manusia” Al-Amien yang bersumber dari nilai-nilai Islam, kebangsaan, kepesantrenan, serta teladan dan ajaran para al-marḥūmīn. Di akhir pidato, Kiai Ahmad menegaskan pentingnya para penghuni Pondok menjaga adab dalam seluruh aktivitas mereka.

Demikianlah cerita tentang Apel Tahunan dan Pidato Pimpinan kali ini. Saat menulisnya, terasa betul betapa saya mendambakan agar pidato-pidato para pimpinan Pondok dalam acara Apel Tahunan yang dulu-dulu terdokumentasi dengan baik. Sayangnya, dokumentasi itu tidak lengkap. Andai lengkap, saya akan dengan suka cita membaca atau menyimaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.