Almaghfurlah KH. Achmad Djauhari Chotib adalah sosok yang sangat kagum dengan sistem pendidikan Gontor. Suatu ketika beliau pernah berwasiat kepada putra-putranya dan masyarakat Prenduan supaya mendirikan pondok pesantren ala Gontor bukan seperti Gontor. Ala Gontor yang dimaksudkan di sini adalah sistem yang diterapkan di Gontor.

Keinginan mendirikan pesantren ala Gontor berangkat dari pengamatan yang dilakukan KH. Achmad Djauhari Chotib selama memondokkan putra-putra beliau di Gontor, di mana selama itu Kiai Djauhari sering bertemu dan berdialog langsung dengan Pengasuh Gontor, (alm) KH. Imam Zarkasyi.

Setelah meninggalnya KH. Achmad Djauhari Chotib, 1971, berdirilah TMI yang dibentuk oleh Putra-putra beliau dengan dukungan masyarakat Prenduan. 14 tahun kemudian, 1985, tepatnya 10 Syawal 1405 atau 19 Juni 1985, TMI Putri atau disebut dengan TMaI berdiri “setengah terpaksa” karena tuntutan. Adanya tuntutan yang dimaksud di sini bermula dari ketika saat itu ada beberapa calon santri putri yang datang dari Aceh dan ingin belajar di TMI. Langsung ketika itu, (alm) KH. Muhammad Idris Jauhari mengarahkan mereka untuk masuk ke Pondok Putri 1, akan tetapi mereka tidak mau, dan mereka lebih memilih masuk lembaga TMI. Karena model pendidikan seperti Putri 1 itu sudah banyak mereka jumpai di Aceh, sedangkan model pesantren seperti TMI, jarang mereka jumpai di Aceh. Karena alasan inilah mereka memilih untuk menjadi santri TMI ketika itu.

Maka lantaran kondisi seperti itulah, KH. Muhammad Idris mendirikan TMI Putri dengan “setengah terpaksa,”. Di tengah proses tersebut, saya masih sempat diskusi dengan berkirim surat dari Makkah maupun saat bertemu langsung di Al-Amien. Dan kemudian saya sampaikan wasiat (alm) KH. Imam Zarkasyi selaku Pengasuh Gontor ketika itu bahwa syarat jarak antara pondok putra dan putri harus berjarak 150 KM. Sedangkan kepemilikan tanah Al-Amien masih sangat jauh dari hal tersebut, selain itu masih banyak resiko yang akan dihadapi terutama dari fungsionaris lembaga dan segala macamnya.

Seperti halnya di Pondok Modern Gontor ketika membangun Pondok Gontor Putri juga seperti itu. Yaitu KMI Putri. Seiring berjalannya waktu dan setelah diskusi kecil di rumah Pengasuh maka terumuskanlah TMI Putri (TMaI) seperti di statutaTMaI, yang sebenarnya juga buat semua lembaga putri di lingkungan Al-Amien.

Tujuan pendirian TMal untuk mencetak Muslimah Kāffah, agar bisa menjadi Ṣāliḥah Linafsihā, Rā’iyah fī Baiti Zaujihā, Murobbiyah li Awlādihā, dan Qāidah li Qaumihā. Wanita muslimah tidak bisa menjadi yang ke-empat (qāidah li qaumihā) sebelum menjadi yang ketiga-tiganya di atas. Jadi prioritas pertama adalah nomor tiga yang pertama.

Tidak heran kalau kurikulum TMI Putra lain dengan yang putri bahkan lebih banyak jumlahnya. Itu konsekuensi logis dari suatu usaha sebuah lembaga pendidikan, profil membuahkan sistem, kurikulum dan lain-lain. Itu semua karena tidak lepas dari statuta. Begitulah waktu berjalan, sambil kita menunggu dari jerih payah guru-guru, Pengasuh dan Pimpinan. Seperti dimaklumi hasil pendidikan tidak bisa dilihat hasilnya kecuali beberapa tahun, itu pun belum tentu terlihat.

Suatu ketika kita dikejutkan dengan komentar orang luar, sesama pondok, ketika kita mengirimkan utusan untuk kursus tentang kekoperasian, kira-kira tahun 1990, antar pesantren komentar itu berbunyi:

“Anak Al-Amien kalem-kalem dan pintar-pintar putrinya. ”Adapun laki-lakinya jauh sebelum itu mendapatkan komentar. “Bahasa Arabnya dan ngajinya bagus-bagus.” Meski itu hanya sebagian orang saja, akan tetapi itu berjalan beberapa tahun beruntun, kita tahu komentar dari peserta lomba-lomba di event-event tertentu.

Tapi semua itu tidak berarti kita puas dan bangga, melainkan kembali pada wasiat Kiai (alm) KH. Achmad Djauhari Chotib “ala Gontor itu bukan seperti, tapi suatu sistem, sistemnya sistem Gontor.”

Dengan selalu memproyeksikan dengan hasil Gontor, dan hal itu yang menjadi jadi tolak ukur, maka kita masih banyak ketinggalan meski ada kelebihannya. Jadi semua hasil yang kita ketahui adalah penilaian orang luar, tapi kalau introspeksi itu kita usahakan dari internal  kita. Pernah suatu ketika dalam rapat guru (alm) KH. Muhammad Idris Jauhari melontarkan statement dari hasil pengamatan dan pelaporan dari orang luar Al-Amien bahwa kita ketinggalan dari Gontor dua hal: masalah ukhuwwah dan semangat Jihad.

Itulah kemudian bisa membangkitkan kita dan semua guru-guru untuk senantiasa menumbuhkan sikap ukhuwah, semangat jihad dan semangat ghiroh islamiyah yang tinggi dalam mengembangkan lembaga pendidikan TMI ini.

Dengan harap-harap cemas, kita juga selalu mendengarkan dan mengamati hasil pendidikan yang diterapkan TMI kepada para santrinya, banyak komentar orang luar terkait output pendidikan kita, orang luar tentu melihat itu semua dengan melihat alumni TMI sebagai hasil gambaran dari proses pendidikan yang telah mereka dapatkan selama ini. Bersyukur bahwa prestasi itu masih ada. Terbukti dengan berhasilnya santri-santri kita dalam event-event lomba di beberapa daerah, dan level dari daerah, nasional sampai Asia Tenggara.

Akan tetapi komentar yang dulu pernah mereka utarakan jarang terdengar lagi yaitu ngajinya bagus. Mungkin itu yang menjadi PR kita sekarang yang harus kita prioritaskan. Di samping terus mengamati hasilnya dari alumni-alumni kita yang berkiprah di masyarakat, di rumah tangganya, di lembaga-lembaga pendidikan dan lain-lain.

Ada secercah sinar yang bisa kita syukuri bahwa hasil pendidikan yang kita usahakan yaitu banyaknya alumni yang sudah memasukkan putra-putrinya ke Al-Amien, ada yang ke TMI, ada yang di ma’had Tahfidh, dan Pondok Putri 1 dan IDIA.

Bersyukur meski dengan hasil yang seperti itu, kepercayaan masyarakat semakin besar dengan memasukkan putra-putrinya ke pondok Al-Amien. Semakin berkembangnya waktu, setiap komponen pendidikan yang ada di TMI akan senantiasa meningkatkan proses pembinaan dan pengawasan terhadap semua santri-santri dari A sampai Z-nya, baik itu disiplinnya, berjalannya semua program-program dan peraturan-peraturan yang sudah tercantum.

Begitu juga masalah akhlak dan tingkah laku, sopan santun baik terhadap sesama santri, pada guru, Kyai, dan Nyai. Bagaimana fungsi wali kelas itu bisa menjadi tumpuan santri. Saya membayangkan mereka kalau di rumah, pulang sekolah anak-anak itu pasti ketemu Ibu mereka. Begitu halnya jika di pondok yang jadi Ibu ketika anak pulang sekolah adalah Musyrifah Kamar dan Wali Kelas. Alangkah nyamannya anak-anak  itu akan menemukan dan merasakan di pondok menemukan kasih sayang Ibu yang bisa digantikan sementara oleh Wali Kelas dan Musyrifah Kamar.

Kembali kita ke statuta, kita bayangkan bahwa kita akan mencetak ibu-ibu yang ideal, Ṣāliḥah, berpendidikan dan ilmunya luas, pengalaman cukup, memiliki keterampilan sebagai calon ibu/istri,  juga memiliki sikap kepemimpinan, sehingga bisa melahirkan keturunan dan generasi yang Ṣāliḥīn dan Ṣāliḥāt,, muṣliḥīn dan muṣliḥāt, qānitīn dan qānitāt, Mukhliṣīn dan mukhliṣāt, mujāhidīn dan mujāhidāt fī sabīlillāh, ālimīn dan ‘ālimāt, hāfiẓīn dan hāfiẓāt, multazimīn dan multazimāt ‘alā ‘aqīdatihim wa şarīatihim. Itulah PR besar kita. Kita harus selalu introspeksi, berkenan mendengarkan kritik dari orang pada kekurangan kita. Atau masukan-masukan yang membangun sesuai dengan tujuan dan statuta atau profil yang kita cita-citakan.

9 thoughts on “TMaI di Belakang Layar

  1. Mamnunah Rahiem says:

    Subhanallah…..betapa beratnya rasa tanggung jawab kita bersama ..
    Semoga para Masyaih dn para Pengasuh di beri kekuatan dn kesehatan lahir batin Amien

  2. Ust. Suhairi, S.Th.I says:

    الحمد لله رب العالمين
    بارك الله لنا ولكم أجمعين

    Al Faqir Bangga Menjadi Bagian Keluarga Besar Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep Madura Selama 15 Tahun (2000-2015), Alhamdulillah Al Faqir Mendapatkan Ilmu Langsung Dari Alm. KHM. Tidjani Djauhari, MA, Alm. KH. Makhtum Djauhari, MA & KHM. Idris Jauhari…

    Masih Ingat Betul Pesan Para Almarhumin Kepada Al Faqir:
    1. Jangan Tinggalkan Sholat Berjama’ah 5 Waktu
    2. Istiqomah lah Sholat Tahajud Dan Dhuha
    3. Rutinkan Membaca Al Qur’an
    4. Rutinkan Membaca Buku
    5. Bentuk Khidmah Ke Lembaga:
    – Mengajar Langsung Di Lembaga
    – Membantu Perekonomian Lembaga
    – Mendo’akan Lembaga

    Terimakasih Al Mamater Tercinta ku, PP. Al Amien Prenduan Sumenep Madura

    Semoga Anak-Anak Kita Menjadi Anak Yang Sholeh/ah, Hafidz Al Qur’an & Hadits, Pejuang Islam, Bermanfaat Bagi Kedua Orang Tua, Islam, Kaum Muslimin Serta Orang-Orang Di Sekitarnya.

    امين يار العالمين

  3. HEFNI MUBAROK says:

    Semoga Allah SWT memberikan perlindunganNya dan dimudahkan dalam segala urusannya para Masyayikh dan keluarga besar PP Al Amien

  4. Imamah Tijani ihsan says:

    Alhamdulillah bersyukur pernah di ajar dan didik oleh orang2 hebat di TMaI Alamien, sampai saat ini sy masih merasakan nikmat itu. Krn sangat berdampak sekali dalam perjalanan hidup sy. Semoga Rahmat dan Rahim Allah selalu untuk para masyayikh dan pengasuh.

  5. Imamah Tijani ihsan says:

    Alhamdulillah bersyukur pernah di ajar dan didik oleh orang2 hebat di TMaI Alamien, sampai saat ini sy masih merasakan nikmat itu. Krn sangat berdampak sekali dalam perjalanan hidup sy. Semoga Rahmat dan Rahim Allah selalu untuk para masyayikh dan pengasuh.

  6. Imamah Tijani ihsan says:

    Alhamdulillah bersyukur pernah di ajar dan di Didik oleh orang – orang hebat di TMaI Alamien, Nikmat itu dapat sy rasakan sampai sekarang, Krn sangat berdampak sekali dalam perjalanan hidup sy, semoga Rahmat dan Rahim Allah selalu untuk para masyayikh dan pengasuh pondok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.