Power syndrome. Gila kekuasaan kini menjangkiti para calon presiden, anggota legislatif, gubernur maupun bupati atau walikota. Mereka larut dalam ambisi jabatan. Tenggelam dalam megalomania politik, dan terjerat nafsu kekuasaan. Bagi mereka kekuasaan adalah kesenangan, keindahan, kelezatan dan kenikmatan.

Kekuasaan mereka yakini sebagai jalan untuk mendapatkan kekayaan, berbagai fasilitas, dan kenikmatan hidup impian mereka. Mereka seakan lupa, bahwa kekuasaan yang berangkat dari ambisi pribadi dan kelompok, akan berakibat fatal. Karena ia akan melahirkan penyakit hati dan pikiran busuk. Seperti rasa penuh curiga, rasa tidak percaya, menebar berita buruk, membuat tipu daya, dan merasa diri lebih baik dan mampu dari orang lain.

Bahaya ambisi kekuasaan ini telah Rasulullah SAW pesankan dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdurrahman Ibn Samurah, “Wahai Abdurrahman Ibn Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika (kekuasaan) diberi karena ambisimu, maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tapi jika (kekuasaan) ditugaskan tanpa ambisimu, maka kamu akan ditolong mengatasinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadist lain disebutkan, “Kami tidak mengangkat orang yang berambisi kedudukan.” Ini menjadi bukti bahwa seseorang yang memiliki ambis kekuasaan, tak akan pernah memiliki kemuliaan hidup.

Akibat penyakit hubbur-riyasah (cinta kekuasaan) ini, maka berbagai cara mereka lalukan. Semua berjanji akan berbuat baik di hadapan rakyat. Bahkan ada yang rela membagikan uang tunai. Padahal jelas peringatan Rasulullah, “La’anallahu ar-rasyi wal-murtasyi war-ra isya bainahuma.” Allah melaknat penyuap, penerima suap, dan yang memberi peluang bagi mereka. (HR. Ahmad)

Tidak hanya itu, para calon penguasa seringkali memberi janji semanis mungkin, meski akhirnya pahit realisasi. Manuver politik semacam ini mereka bungkus dengan berbagai kebohongan. Walau dikemas dan disajikan dengan baik, tetap saja akhirnya akan tercium. Karena kebohongan politik baunya akan lebih busuk dari busukny bangkai.

Rasulullah bersabda, “Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana. Tapi setelah turun mimbar, mereka melakukan tipu daya dan pencurian hati. Mereka lebih busuk dari bangkai.” (HR. Thabrani)

Bagi seorang muslim, kekuasaan adalah yang mesti pertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT. Sementara orang yang mereka pimpin atau rakyat, sesungguhnya adalah raja. Jadi dalam kacamata Islam, pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya. “Sayyidul-qaumi khadimuhum.”

Bukan malah menjadi pemimpin-pemimpin yang hanya bisa menggunakan berbagai fasilitas mewah dan pelayanan yang serba wah dari uang rakyat. Mobil mewah, gaji tinggi, tunjagan beraneka warna, pelesir keluar negeri dan sejenisnya. Hanya pemimpin ambisius sajalah yang akan menyalahgunakan amanah suci ini. Subhanallah

Sumber: Majalah Qalam Edisi 2/Tahun I/2009

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.