Jika seseorang pergi ke negara Barat untuk belajar Bahas Inggris, teknologi informasi, teknik mesin, dan lain sebagainya, mungkin patut dimaklumi. Tapi jika untuk mendalami ilmu tafris, hadist, ushul fikh atau lainnya. Barat bukanlah pilihan tepat.

Belajar Islam kepada orang-orang yang sama sekali tidak beriman dan meragukan kebenaran Islam sungguh aneh. Apalagi Allah SWT telah mengingatkan kita agar tidak menjadikan kaum kafir sebagai guru.

Kalangan agama lain pun tak pernah belajar tentang agama mereka sendiri kepada orang yang bukan seagama. Andaipun ada, mereka biasanya mendatangi seorang Muslim untuk belajar tentang Islam. Karena tertarik terhadap Islam, tak sedikit diantara mereka yang kemudian memeluk Islam.

Untuk belajar Islam, kaum Muslimin seharusnya kembali kepada petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah, melalui bimbingan para ulama shalih.

Abu Hanifah pernah berujar, “Tidak halal bagi seseorang mengambil pendapat kami selama ia belum tahu dari mana kami mengambilnya.” Beliau juga menegaskan, “Haram bagi orang yang tidak tahu dalilku untuk berfatwa dengan pendapatku.”

Malik Ibn Anas RA berkata, “Aku hanya seorang manusia yang bisa salah dan benar. Maka, perhatikanlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ambillah, dan setiap yang menyalahi Al-Qur’an dan Sunnah tinggalkanlah.”

Sementara Imam Syafi’i menyatakan, “Apabila kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyalahi Sunnah Rasulullullah SAW, maka peganglah Sunnnah dan tinggalkanlah perkataanku.” Beliau juga berkata, “Setiap masalah yang telah sah hadistnya dari Rasulullah menurut pemeriksaan ahli hadist yang menyalahi pendapatku, maka aku ruju’ dari pendapat tersebut semasa aku hidup dan sesudah mati.”

Ahmad ibn Hambal berkata, “Janganlah kamu taqlid kepadaku, ataupun kepada Malik, Syafi’i, Auza’i, ats-Tsauri. Tapi ambillah dari mana mereka ngambil.”

Dengan berbagai sarana dan fasilitas yang mencukupi, studi Islam di Barat jelas menggiurkan dan menjadi pilihan bagi generasi muda Islam dari kalangan akademisi. Tapi sekembali para sarjana Muslim itu dari belajara Barat, justru banyak yang melakukan distorsi, hingga menjelek-jelekkan Islam. Bahkan, tak sedikit yang meragukan kebenaran Islam.

Penyebab utama terjadinya kondisi ini mungkin karena diabaikannya ilmu dasar yang sangat prinsip, yaitu keyakinan tauhid. Mereka tidak mempelajari tauhid secara mendalam dan benar. Padahal, dalam Islam, akidah dan pandangan Tauhid adalah yang paling mendasar.

Allah berfirman, “Dan siapa yang mentataati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat Allah, yaitu Nabi-nabi, para kaum shiddiq, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah sebaik-baiknya.”(Qs an-Nisa[4]: 69)

Seorang mukmin harus meyakini kebenaran dan akidah Islam sebagai poros dari segala pandangan dan tindakan yang akan menjamin kebahagiannya dunia dan akhirat. Sementara orang yang belajar Islam bukan dari sumber dan hujjah yang benar, apalagi belajar Islam ke Barat, tanpa landasan akidah yang kuat, maka akan goyah.

Sebab, Barat mengkaji Islam bukan untuk memperkuat iman. Mereka melihat Islam hanya sebagai objek akademis untuk berbagai kepentingan, yang sifatnya pragmatis.

Karena itu, pandangan bahwa belajar Islam ke Barat adalah lebih baik dan lebih unggul, sudah seharusnya dihapus. Sebelum lebih banyak lagi ‘korban’ yang akan terjerumus kedalam pemikiran liberal, relatif, dan meragukan kebenaran agama sendiri. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: Majalah Qalam, Edisi 30/Sya’ban 1436 H/Tahun V/2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.