Kalau selama Ramadhan…..

Kita bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang “halal” seperti makan, minum, mengapa dalam kehidupan sehari hari kita tidak mampu menahan diri dari hal-hal yang sudah jelas “haram” seperti mencuri, menipu berbuat dholim dan lain lain?

Kalau selama Ramadhan…..

Kita bisa mendorong diri untuk melakukan hal-hal yang “Sunnah” seperti tarawih, qiyamul lail, bersedekah dll, mengapa diluar Ramadhan kita tidak mampu mendorong diri untuk mendorong hal-hal yang sudah jelas “Wajid” seperti shalat karena Allah dan beramal sholeh kepada sesama?

Kalau selama Ramadhan…..

Kita bisa menyesuaikan diri dengan suasana kehidupan sehari hari yang Islami, mengapa diluar Ramadhan kita begitu mudah hanyut dalam suasana kehidupan yang sekuler dan tidak Islami?

Kalau selama Ramadhan…..

Kita Memiliki keparcayaan diri yang besar untuk menampakkan diri sebagai muslim yang ta’at, mengapa setelah Ramadhan kita begitu mudah meniru sikap dan prilaku orang yang Ingkar?

Kalau selama Ramadhan…..

Kita mamapu menbangun kejujuran diri di hadapan Allah SWT dan manusia, mengapa diluar Ramadhan kita sering berbohong, menipu, munafiq, sampai kepada diri sendiri sekalipun?

Kalau selama Ramadhan…..

Kita begitu mudah melakukan introspeksi dan koreksi diri, mengapa diluar Ramadhan kita menjadi orang yang selalu merasa paling benar sendiri, dan suka menyalahkan orang lain yang tidak sepaham atau tidak sekelompok dengan kita?

Kalau selama Ramadhan…..

Kita bisa memiliki kepekaan diri yang cukup tinggi terhadap kepincangan social dan penyimpangan penyimpangan susila, mengapa setelah Ramahan kita sering kali cuek terhadap semua itu?

Kalau selama Ramadhan…..

Kita begitu antusian memiliki pesona diri, sehingga selalu berusaha tampil menarik di hadapan Allah SWT dan manusia, mengapa di luar Ramadhan kita suka membiarkan diri kita berlumuran aib dan cela?

Kalau selama Ramadhan…..

Kita bisa bersikap tawadlu’ atau rendah hati, mengapa di luar Ramadhan kita begitu angkuh, ‘ujub, takabbur dan arogan?

Itulah

“Kecerdasan-kecerdasan Emosional” yang bisa kita bangun selama bulan suci Ramadhan ini (yaitu daya tahan diri, daya dorong, daya suai, percaya diri, kejujuran diri, introspeksi diri, kepekaan diri, pesona diri dan rendah hati) tetapi begitu Ramadhan lewat, semuanya kita biarkan rusak kembali di dalam diri kita.

Mengapa kita tidak berusaha dengan sungguh sungguh untuk meningkatkannya, atau bahkan sekedar untuk mempertahankannya?

Bagi Mereka yang sekedar lapar

• Kalau kita tau dan yakin….

Bahwa Ramadhan adalah bulan penuh rahmah, maghfiroh dan pembebasan dari neraka…

• Bahwa puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan semata-mata karena mengharap pahala Allah bisa menghapus dosa-dosa kita yang lalu

• Bahwa apa bila puasa kita diterima Allah SWT, kita akan menjadi bayi yang baru dilahirkan

• Bahwa puasa Ramadhan memiliki nilai khusus disisi Allah SWT, karena itu hanya untuk Allah, dan Dia sendiri yang akan memberi pahala kepada kita, sesuai dengan kehenndakNya.

• Bahwa Rosulullah SAW, menegaskan “Betapa banyak orang yang lapar, tapi betapa sedikit orang yang berpuasa”

Paling tidak ada 4 kelompok ummat islam yang keluar dari Ramadhan dan masuk kedalam Idul Fitri setiap tahunnya:

1. Mereka yang keluar dari medan pertempuran sebagai pemenang muthlak, kembali ke fitroh awalnya dengan kemenangan yang gilang gemilang, dan menjadi bagaikan bayi yang baru dilahirkan yang sama sekali tidak berdosa. Mereka adalah orang orang yang di sebut Al-Akhash al Khawash” atau kelompok VVIP, yang seluruh indra, organ organ jasmani, organ-organ rohaninya ikut berpuasa selama Ramadhan.

2. Mereka yang keluar sebagai pemenang disatu medan tapi kaalah di medan yang lain, elum sepenuhnya kembali ke fithroh awalnya. Dn di sana sini masih tersisa masa lalunya. Tidak semuanya diampuni dan dihapus oleh Allah SWT, mereka biasanya di sebut “Al-Khawash” atau kelompok VIP, yg organ organ jasmani dan seluruh inderanya berpuasa, tapi belum seluruh organ ruhaninya berpuasa.

3. Mereka yang sebenarnya kalah dalam pertempuran, namun barang kali masih bisa kembali ke pinggiran fithroh awalnya, dosa dosanya yang lalu masih melekat kuat dalam dirinya, bahkan dalam beberapa hal bertambah. Mereka biasa disebut “Al-Awam” yaitu kelompok orang yang ketika Ramadhan “ sekedar lapar dan haus tapi tidak berpuasa, Perut dan nafsu sexnya berpuasa tapi tapi indera apalagi organ ruhaninya tidak ikut berpuasa.

4. Orang orang yang mengaku beragama Islam, tetapi sama sekali tidak terlibat dalam kegiatan Ramadhan. Mereka tidak menahan lapar, haus dan sebagainya.

Termasuk golongan keberapakah kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.